antara Osteoporosis dan Osteoarthritis…

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Balakang

Tubuh manusia terdiri dari beberapa sistem organ. Salah satu di antaranya adalah tulang. Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk alat gerak pasif, pembentuk tubuh, proteksi alat-alat di dalam tubuh, metabolisme kalsium dan mineral, dan organ hemopoetik. Tulang juga merupakan jaringan ikat yang dinamis yang selalu diperbaharui melalui proses remodeling yang terdiri dari proses resorpsi dan formasi. Tulang terdiri dari beberapa sel, yaitu osteoblas, osteoklas, dan osteosit yang mepunyai peranannya masing-masing (Price dan Lorraine, 2006).

Seperti yang telah disebutkan, tulang mempunyai peranan yang sangat penting dalam tubuh manusia. Tetapi tulang juga dapat mengalami patologi seperti osteomielitis, osteoporosis, osteoarthritis, dan lainnya. Dalam penulisan kali ini, penulis akan membahas tentang osteoarthritis dan osteoporosis.

Osteoarthritis adalah penyakit sendi degeneratif non inflamasi yang terutama terjadi pada orang tua, ditandai dengan degenarasi tulang rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepinya dan perubahan pada membran sinovial (Dorland, 2007). Akibat daripada perubahan sel-sel tersebut, tulang rawan akhirnya menjadi haus dan membentuk retakan-retakan pada permukaan sendi. Rongga kecil akan terbentuk di dalam sumsum tulang di bawah tulang rawan tersebut, sehingga tulang yang berkenaan menjadi rapuh. Tubuh kita akan berusaha untuk memperbaiki kerosakan tersebut. Tetapi proses membaik pulih yang dilakukan oleh tubuh mungkin tidak memadai, mengakibatkan timbulnya bengkakan pada hujung sendi (osteofit) yang menyebabkan rasa ngilu.

Pada akhirnya permukaan tulang rawan akan berubah menjadi kasar dan berlubang-lubang sehingga sendi tidak lagi bisa bergerak secara halus. Semua komponen yang ada pada sendi (tulang, kapsul sendi, jaringan sinovial, tendon, dan tulang rawan) mengalami kegagalan dan terjadi kekakuan sendi.

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Oleh karena gejala osteoarthritis dan osteoporosis yang menganggu dan epidemiologinya yang sering pada orang lanjut usia maka dalam penulisan kali ini, penulis akan membahas osteoarhtritis dan osteoporosis secara keseluruhan mencakup etiologi, patofisiologi, epidemiologi, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan penunjang serta penatalaksanaannya.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Skenario 2:

Seorang perempuan, 60 tahun, mengeluh nyeri sendi pada lutut kirinya, terutama saat jalan dan naik tangga. Keluhan ini timbul sejak 2 tahun dan kambuh-kambuhan sehingga mengganggu pekerjaannya sebagai kuli gendong, biasanya diobati sendiri dengan minum obat bebas yang dibeli tanpa resep. Karena tidak kunjung sembuh, penderita periksa ke dokter, dari hasil pemeriksaan lutut kiri didapatkan: tanda-tanda radang dan keterbatasan ROM. Selanjutnya dilakukan foto roentgen, hasilnya tampak osteofit ke arah osteoarthritis. Penderita juga diperiksa Bone Marrow Density (BMD), didapatkan hasil osteoporosis (OA). Kemudian disarankan untuk pemeriksaan darah, dengan hasil CRP meningkat, rheumatoid factor negative. Pasien diberi obat untuk OA dan osteoporosis serta dokter menyarankan untuk mengkonsultasikan ke bagian rehabilitasi medik.

Berdasarkan skenario diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana anatomi dan histologi dari sendi?
  2. Apa definisi dari osteoarthritis dan osteoporosis?
    1. Bagaimana etiologi, patofisiologi, faktor risiko, pemeriksaan fisik dan penatalaksanaan yang tepat dari osteoarthritis dan osteoporosis?
  3. Adakah hubungan antara penyakit dan pekerjaan pasien?
    1. Adakah hubungan antara penyakit dan obat bebas yang dikonsumsi pasien? Bagaimana mekanismenya?
    2. Mengapa rehabilitasi medik diperlukan untuk penatalaksanaan osteoarthritis dan osteoporosis? Bagaimana rehabilitasi mediknya?
    3. C.    Tujuan Penulisan
      1. Untuk mengetahui anatomi dan histology dari sendi
      2. Untuk mengetahui definisi dari osteoarthritis dan osteoporosis.
      3. Untuk mengetahui etiologi, patofisiologi dan faktor risiko dari osteoarhtritis dan osteoporosis.
      4. Untuk mengetahui cara penegakkan diagnosis yang meliputi pemeriksaan fisik, laboratorium, penunjang untuk osteoarthritis dan osteoporosis.
      5. Untuk mengetahui penatalaksanaan terbaik yang dapat diberikan terhadap pasien, yang di antaranya adalah rehabilitasi medik.

 

  1. D.    Manfaat Penulisan

Dengan penulisan laporan ini diharapkan mahasiswa dapat menetapkan diagnosis atau differensial diagnosa berbagai penyakit dalam bidang muskuloskeletal, mampu melakukan prosedur klinik dan laboratorium dalam bidang muskuloskeletal, dan mampu menerapkan konsep dan prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan epidemilogi kesehatan masyarakat dalam bidang muskuloskeletal.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

  1. A.    Anatomi dan Histologi Sendi dan Tulang Rawan Sendi

Sendi adalah hubungan antar tulang, baik yang memungkinkan tulang-tulang tersebut dapat bergerak satu sama lain, maupun tidak dapat bergerak satu sama lain. Ada dua kelompok sendi dalam tubuh manusia, yaitu:

  1. Synarthrosis yaitu hubungan antar tulang dilakukan oleh jaringan penghubung. Menurut jaringan penghubungnya maka synarthrosis dibagi menjadi tiga, yaitu:
  1. Syndesmosis : jaringan penghubungnya adalah jaringan pengikat.

Contohnya pada sutura, syndesmosis elastica (antara arcus vertebrae dengan ligamentum flavum), dll.

  1. Synchondrosis : tulang rawan sebagai jaringan penghubung.

Contoh pada discus epiphyseos antara manubrium sterni dengan corpus sterni.

  1. Synostosis : tulang sebagai jaringan penghubung

Contoh pada Os.coxae

  1. Diarthrosis yaitu hubungan antara tulang satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh jarak tertentu karena adanya rongga (cavum articulare) sehingga gerakannya lebih bebas. Diarthrosis ada dua jenis, yaitu:
  1. Amphiartrosis yang menyebabkan gerakan sendi sangat terbatas karena cavum articularenya sempit. Contoh pada symphisis pubis.
  2. Diarthrosis yang menyebabkan gerakan yang luas.

 

Ditinjau dari kemungkinan gerak suatu persendian, maka sendi dibagi menjadi 3 kelompok:

  1. Sendi dengan satu axis uniaxial

-          Gynglimus (hinge joint)

Sendi ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi. Contoh pada articulation humeroulnaris articulatio interphalangea.

-          Articulatio trochoidea (pivot joint)

Sendi ini memungkinkan gerakan supinasi dan pronasi. Contoh articulatio radioulnaris, articulatio atlantodentalis.

-          Articulatio trochlearis, pada articulatio humeroulnaris, ariculatio cubiti.

-          Arthrosis (plana joint), pada articulatio acromioclaviculares, articulations intercarpales, articulation intertarsalia.

  1. Sendi dengan dua axis biaxial

-          Articulatio ellipsoidea (condyloid joint), pada articulation rdiocarpalis, articulation atlantooccipitalis.

-          Articulatio sellaris (saddle joint), pada articulatio carpometacarpalis I.

  1. Sendi dengan tiga axis triaxial

Sendi ini gerakannya mencakup fleksi, ekstensi, abductio, adductio, circumductio dan rotatio.

-          Articulatio globoidea, pada articulatio humeri.

-          Articulatio spheroidea, pada articulatio coxae.

 

Tulang rawan sendi normal merupakan jaringan ikat khusus avaskuler dan tidak memiliki jaringan saraf yang melapisi permukaan tulang dari sendi diartrodial. Tulang rawan sendi berperan sebagai bantalan yang menerima (meredam) beban benturan yang terjadi selama gerakan sendi normal dan meneruskannya ke tulang di bawah sendi.

 

  1. B.     Osteoarthritis (OA)

Osteoarthritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Osteoartrosis disebut primer, bila tak diketahui penyebabnya; dan disebut sekunder bila diketahui penyebabnya,misalnya akibat artritis rematoid, infeksi, gout, pseudogout dan sebagainya. Penyakit ini bersifat progresif lambat, umumnya terjadi pada usia lanjut, walaupun usia bukan satu-satunya faktor risiko. Osteoartrosis menyerang terutama sendi tangan  atau sendi penyokong berat badan termasuk sendi lutut. ( Harry Isbagio, 1995)

Gejala

Gejala osteoarthritis timbul secara berperingkat. Pada awalnya perubahan seperti ngilu dan kekejangan pada sendi akan berlaku. Sendi-sendi pada jari tangan, pangkal ibu jari, leher, punggung sebelah bawah, jari kaki yang besar, pinggul dan lutut adalah bahagian yang sering menghidap osteoartritis. Ngilu dikategorikan ringan, sederhana, atau berat sehingga dapat mengganggu aktiviti seharian. Apabila penyakit ini berlanjutan semakin susah untuk mengerakkan sendi sehingga pada akhirnya akan menyebabkan ssendi menjadi bengkok.

Pertumbuhan baru pada tulang rawan dan jaringan lainya akan menyebabkan pembesaran sendi, dan tulang rawan yang permukaanya kasar akan menyebabkan timbulnya bunyi gemeretak apabila sendi digerakkan. Pada beberapa sendi, ligamen (yang mengelilingi dan menyokong sendi) akan teregang sehingga sendi menjadi tidak stabil. Menyentuh atau menggerakkan sendi tersebut selalunya akan menyebabkan rasa ngilu yang teramat sangat.

Osteoartritis yang terjadi pada sendi-sendi di leher atau punggung akan menimbulkan gejala tidak mempunyai deria rasa, kebas, ngilu dan lengan yang lemah, jika terdapat pertumbuhan tulang yang berlebihan,ia akan menekan saraf-saraf di sekitarnya. Kadang-kadang adanya terjadi penekanan pada pembuluh darah yang menuju ke otak di bahagian belakang, sehingga menyebabkan gangguan penglihatan, vertigo,rasa mual dan muntah. Pertumbuhan tulang yang berlebihan di sekitar leher juga akan menganggu proses penelanan.

Faktor Risiko

  1. Umur

Osteoarthritis hampir tidak pernah pada anak-anak, jarang pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun.

  1. Jenis Kelamin

Secara keseluruhan, di bawah 45 tahun frekuensi OA kurang lebih sama pada pria dan wanita, tetapi di atas 50 tahun (post menopause) frekuensi OA lebih banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis OA.

  1. Genetik

Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada OA tertentu.

  1. Kegemukan dan Penyakit Metabolik
  2. Cedera sendi, Pekerjaan dan Olahraga

Aktivitas-aktivitas tertentu dapat menjadi predisposisi OA cedera traumatik (misalnya robeknya meniscus, ketidakstabilan ligamen) yang dapat mengenai sendi.

  1. Kelainan pertumbuhan

Etiologi

  1. Adanya peradangan kronis pada persendian

Ditandai dengan pembengkakan pada jari-jari tangan, siku, dan lutut. Biasanya daereah yang mengalami pembengkakan, berwarna kemerah-merahan.

  1. Pernah mengalami trauma dan radang pada sendi.
  2. Karena faktor usia

Kebanyakan orang yang terkena osteoarthritis adalah orang dengan usia diatas 50 tahun.

  1. Keturunan

Ada beberapa orang yang mengalami osteoarthritis karena faktor keturunan.

  1. Berat badan yang berlebihan

Berat badan yang berlebihan, dapat memberatkan sendi dalam menopang tubuh.

  1. Stres pada sendi

Biasanya stres pada sendi ini terjadi pada olahragawan.

  1. Neurophaty perifer

Diagnosis

Diagnosis pada osteoartritis dapatditentukan berdasarkan gejala penyakit dan dengan melakukan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan lanjutan yang dimaksudkan ialah :

1. Roentgen tulang

Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kerosakan atau perubahan yang berlaku pada tulang rawan atau tulang yang menunjukkan adanya osteoartritis.

2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI dapat mengesan perubahan yang terjadi pada tulang rawan dan dapat memberi impresi yang lebih baik daripada pemeriksaan roentgen tulang.

3. Aspirasi sendi (arthrocentesis)

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sedikit cecair yang terdapat pada sendi untuk diperiksa di makmal berhubungan dengan adanya perubahan pada sendi.

 

 

 

Gambaran radiologi osteoarthritis

 

Penatalaksanaan

Pilihan rawatan adalah mengawal berat badan, perlindungan sendi, fisio terapi, dan ubat-ubatan. Apabila semua pilihan terapi tersebut tidak memberikan apa-apa hasil, pesait akan dipertimbangkan untuk melakukan pembedahan pada sendi tersebut.

Glucosamine dan Chondroitin Sulfate (1,5)Glucosamine merupakan satu gula amino yang berfungsi untuk membentuk dan membaik pulih kartilage. Chondroitin sulfate merupakan sebahagian daripada molekul protein yang besar (proteoglycan) yang memberikan keelastikan pada kartilage.Kajian menunjukkan bahawa pesakit osteoartritis yang mengambil suplemen glucosamine dan chondroitin sulfate mengalami pengurangan rasa ngilu pada intensiti yang sama seperti apabila seseorang mengambil ubat NSAIDS (Anti Inflamasi Non-Steroid). Selain itu kedua-dua zat tersebut juga dipercayai dapat memperlambatkan kerosakan kartilage pada pesakit osteoartritis.

 

  1. C.    Osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah (Aru Sudoyo, 2007).

Etiologi

  1. Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.

Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.

Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

  1. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru.

Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.

  1. Osteoporosis sekunder dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.

Penyakit osteoporosis bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan).

Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis.

  1. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui.

Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

 

Faktor Risiko Osteoporosis

  1. Wanita
    Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.
  2. Usia
    Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.
  3. Ras/Suku
    Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.
  4. Keturunan Penderita osteoporosis

Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.

  1. Gaya Hidup Kurang Baik
  • Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.
  • Minuman berkafein dan beralkohol

Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).

  • Malas Olahraga

Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.

  • Merokok
    Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
  • Kurang Kalsium

Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.

  1. Mengkonsumsi Obat

Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.

  1. Kurus dan Mungil

Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna.

 

Penatalaksanaan

Terapi dan pengobatan osteoporosis bertujuan untuk meningkatkan kepadatan tulang untuk mengurangi retak tambahan dan mengontrol rasa sakit. Untuk mempertahankan kepadatan tulang, tubuh memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya yang memadai, dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan testosteron pada pria). Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik. Penjepit punggung mungkin penting untuk mendukung vertebra yang lemah dan operasi dapat memperbaiki bweberapa keretakan. Pengobatan hormonal dan flouride dapat membantu. Penyakit osteoporosis yang disebabkan oleh gangguan lain dapat dicegah melalui pengobatan yang efektif pada gangguan dasarnya, seperti terapi kortikosteroid.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas dan gejala-gejala yang dialami oleh pasien, diduga pasien menderita osteoarthritis (OA) beserta osteoporosis. Hal ini dapat dilihat dari hasil pemeriksaan fisik dan foto rontgen yang dilakukan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda radang dan keterbatasan ROM pada lutut. Selanjutnya juga dilakukan pemeriksaan foto rontgen, hasilnya tampak osteofit yang mengarah pada OA, lalu pada pemeriksaan bone marrow density didapatkan hasil osteoporosis dengan hasil CRP meningkat.

Sebelum membahas tentang OA dan osteoporosis, pembahasan mengenai tulang rawan sendi diperlukan terlebih dahulu. Tulang rawan sendi normal merupakan jaringan ikat khusus avaskuler dan tidak memiliki jaringan saraf yang melapisi permukaan tulang dari sendi diartrodial. Tulang rawan sendi berperan sebagai bantalan yang menerima (meredam) beban benturan yang terjadi selama gerakan sendi normal dan meneruskannya ke tulang di bawah sendi. Tulang rawan sendi terletak pada komposisi dan struktur matriks ekstraseluler yang terutama mengandung agregat proteoglikan dalam konsentrasi tinggi dalam sebuah ikatan yang erat dengan serabut dan sejumlah besar air. Pelumasan oleh cairan sendi memungkinkan berkurangnya gesekan antara permukaan tulang rawan sendi artikuler pada pergerakan (Aru Sudoyo, 2007).

Osteoarthritis adalah penyakit sendi degeneratif non inflamasi yang terutama terjadi pada orang tua, ditandai dengan degenarasi tulang rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepinya dan perubahan pada membran sinovial (Dorland, 2007). OA merupakan penyakit gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago. Pada OA juga terjadi peningkatan degradasi kolagen yang akan mengubah keseimbangan metabolisme rawan sendi, kelebihan produk hasil degradasi matriks rawan sendi ini cenderung berakumulasi di sendi dan menghambat fungsi rawan sendi serta mengawali suatu respon imun yang menyebabkan inflamasi sendi. Sedangkan osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Faktor risiko OA dan osteoporosis hampir sama, seperti yang telah dijelaskan pada tinjauan pustaka.

Faktor risiko dari OA dan osteoporosis antara lain usia, pekerjaan, jenis kelamin, dan lainnya. Pada skenario disebutkan seorang wanita berumur 60 tahun berkerja sebagai kuli gendong yang mengeluh nyeri pada sendi lutut. Berdasarkan tinjauan pustaka, OA dan osteoporosis yang terjadi pada pasien tersebut berisiko karena jenis kelamin (wanita), usia (60 tahun), dan pekerjaan (kuli gendong). Wanita yang telah lanjut usia atau di atas 45 tahun telah mengalami menopause sehingga terjadi penurunan estrogen. Estrogen merupakan regulator pertumbuhan dan homeostasis tulang yang penting. Estrogen berpengaruh pada osteoblas dan sel endotel. Apabila terjadi penurunan estrogen maka TGF-ß yang dihasilkan osteoblas dan NO yang dihasilan sel endotel akan menurun juga sehingga menyebabkan diferensiasi dan maturasi osteoklas meningkat. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan resorpsi tulang hingga menyebabkan osteoporosis. Estrogen juga berpengaruh pada bone marrow stroma cell dan sel mononuklear yang dapat menghasilkan HIL-1, TNF-α, IL-6 dan M-CSF sehingga dapat terjadi osteoarhtritis karena mediator inflamasi ini. Tidak hanya itu, estrogen juga berpengaruh pada absorbsi kalsium dan reabsorbsi kalsium di ginjal sehingga terjadi hipokalsemia. Keadaan hipokalsemia ini menyebabkan mekanisme umpan balik sehingga meningkatkan hormon paratiroid. Peningkatan hormon paratiroid ini juga dapat meningkatkan resorpsi tulang sehingga dapat mengakibatkan OA dan osteoporosis.

Sendi lutut adalah articulatio genu yang mempunyai tipe sendi ginglimus. Articulatio genu ini menahan hampir seluruh berat tubuh pada saat berdiri. Bagi pasien pada skenario yang bekerja sebagai kuli gendong, hal ini cukup beralasan untuk menjadikannya faktor risiko. Beban yang cukup berat secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan struktur proteoglikan kartilago. Keadaan ini dapat menyebabkan diorganisasi kondrosit dan erosi sebagian kondrosit. Hal ini mengakibatkan articulatio genu mengapung. Lalu terbentuk kista dalam tulang. Pada proses remodelling terjadi proliferasi tulang di sendi (osteofit) yang dapat menyebabkan trauma membran sinovium. Trauma ini lalu menunjukan tanda-tanda peradangan.

Obat bebas yang dikonsumsi pasien juga dapat berpengaruh. Biasanya obat bebas yang dijual adalah kortikosteroid karena harganya murah dan efeknya sebagai antiinflamasi. Kortikosteroid mempunyai kerja sebagai berikut yaitu menurunkan absorpsi di GI tract, menurunkan produksi estrogen dan testosteron, menurunkan massa otot dan menurunkan aktivitas osteoblas. Oleh karena itu, kortikosteroid dapat menyebabkan osteoporosis.

Peningkatan CRP (C-reactive protein) menunjukkan adanya inflamasi. Karena CRP berguna untuk mengaktivasi jalur komplemen pada proses inflamasi. Tetapi inflamasi pada skenario bukan kronik karena reumatoid factor negatif. Reumatoid factor itu sendiri untuk menandakan adanya infeksi kronik sendi.

Diagnosis pada osteoartritis dapatditentukan berdasarkan gejala penyakit dan dengan melakukan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan lanjutan yang dimaksudkan ialah :

1. Roentgen tulang

Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kerosakan atau perubahan yang berlaku pada tulang rawan atau tulang yang menunjukkan adanya osteoartritis.

2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI dapat mengesan perubahan yang terjadi pada tulang rawan dan dapat memberi impresi yang lebih baik daripada pemeriksaan roentgen tulang.

3. Aspirasi sendi (arthrocentesis)

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sedikit cecair yang terdapat pada sendi untuk diperiksa di makmal berhubungan dengan adanya perubahan pada sendi.

Penatalaksanaan dapat diberikan NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drugs), glukosaminoglikan dan kondroitin sulfat. NSAID mempunyai efek analgetik dan anti-inflamasi sehingga dapat mengurangi beban pasien. Glukosaminogen dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam proses degradasi tulang rawan, sedangkan kondroitin sulfat adalah bagian dari proteoglikan yang terdapat pada tulang rawan sendi. Bila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari maka terapi bedah perlu dilakukan.

Rehabilitasi medik (RM) diperlukan pada OA dan osteoporosis untuk meningkatkan / mempertahankan luas gerak sendi, meningkatkan / memulihkan kekuatan otot – otot sendi, meningkatkan / memulihkan stabilitas sendi lutut, memulihkan pola gait yang abnormal, dan endurance Aerobik. RM pada OA dapat diberikan terapi dingin untuk fase akut dan terapi panas untuk fase kronik dan juga RM menggerakkan sendi-sendi secara teratur tiap harinya. Hal ini dapat dilakukan dengan berjalan, berenang, dan bersepeda.

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Seorang wanita berumur 60 tahun bekerja sebagai kuli gendong didiagnosis menderita osteoarthritis dan osteoporosis fase akut.
  2. Penyebab dari OA dan osteoporosis pada wanita tersebut adalah jenis kelamin, usia dan pekerjaan dan obat bebas yang dikonsumsinya.
  3. Osteoarthritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Sedangkan osteoporosis adalah Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
  4. Diagnosis dapat ditegakkan dengan foto rontgen yang menunjukkan adanya osteofit, sklerosis, permukaan sendi tidak teratur, dll.
  5. Penatalaksanaan yang dapat diberikan adalah NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drugs), glukosaminoglikan dan kondroitin sulfat.
  6. Rehabilitasi medik yang dapat diberikan adalah dengan terapi dingin (fase akut), terapi panas (fase kronik), menggerakkan sendi-sendi secara teratur tiap harinya. Hal ini dapat dilakukan dengan berjalan, berenang, dan bersepeda.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dorland, W.A Newman.  2006.  Kamus Kedokteran Dorland, 29th ed.  Jakarta:  EGC.

Guyton, Arthur C. dan John E. Hall.  1997.  Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.  Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif, dkk.  2000.  Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3.  Jakarta: Media Aesculapius FKUI.

Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC.

Sudoyo, Aru W. dkk.  2006.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN INDIVIDU

 

BLOK  XI  SISTEM MUSKULOSKELETAL

 

SKENARIO 2

 

”Pengaruh Usia, Hormon Estrogen, Pekerjaan dan Kortikosteroid pada Osteoathritis dan Osteoporosis”

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Tiur Estika Situmorang

G 0007023

Kelompok 6

 

Tutor          :  dr. P. Murdani K., MHPEd

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2008

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.