belajar dari sepupu kecilku :)
31 Des 2011 5 Komentar
Suatu hari sepupu kecilku, Suryo (5th), sedang menonton TV, lalu dia mendengar salah satu kata yang tidak dia mengerti, lalu dia pun bertanya pada ibunya.
Suryo: “Ibu, mandiri itu artinya apa sih?”
Ibunya Suryo: ” Mandiri itu artinya mandi sendiri, makan sendiri, apa-apa sendiri pokoknya.’
Suryo: “Oh gitu ya bu. Ya udah deh bu, aku mau mandiri ya.”
Dan benar saja, sejak saat itu dia mandi dan makan sendiri. Bahkan sampai sekarang saat bertemu gw di rumah mbah gw di Klaten, si suryo kecil sudah mandiri.
Betapa indahnya belajar dari kepolosan anak kecil. Saat dia tidak tahu, dia pun tidak malu bertanya. Dan saat dia mendapati hal itu baik, maka dia akan melakukannya.
Happy New Year 2012, semoga sukses di tahun ini
Menikmati kesendirian
29 Des 2011 3 Komentar
Sebenernya ini tulisan ga jelas, lagi ngerasa sendiri aja.
Ga punya temen (ya temennya lagi sibuk sebenernya), belum punya paca, dan jauh dari keluarga.
Jadi apa yang bisa gw lakuin?
Cuma basket lalu keliling Solo sambil dengerin lagu Cherry Belle
Jangan larut karena dirimu sendiri, nikmatilah, dekatkan dirimu pada Sang Pencipta, niscaya kekosongan itu seperti terisi air kehidupan
Secuil tentang Bapaknya pasien
25 Des 2011 1 Komentar
in Berkat, Perenungan
Berawal dari datangnya seorang bapak ke sebuah poliklinik Rehabilitasi Medik. Yup betul banget, gw lagi stase Rehab Medik. Suatu hari bapak ini datang ke poli RM dengan membawa anaknya, beliau mengeluh bahwa anaknya kok belum bisa ngomong padahal umurnya sudah 2 tahun lebih (hampir 3 tahun lah). Saat menyebutkan keluhannya ini, bapak tersebut sudah mulai berkaca-kaca. Dokter pun bertanya “Sebelumnya sudah bisa ngomong apa pak?” Bapak itu menjawab “Ya dia cuma ngomong sendiri, tapi ga jelas, dulu pas ada ibunya sih bisa ngomong dikit-dikit kayaknya.” “Lho sekarang ibunya mana pak?” “Ibunya sudah pergi dok.” Bapak itu mulai meneteskan air mata. Lalu dokter pun mendiagnosis adanya speech delay pada anak tersebut yang harus diterapi wicara. Dokter bertanya “Pak, ini ada latihan bicara, tapi harus rajin dateng, jangan sampe terputus. Pembayarannya menggunakan apa pak?” Bapak itu pun menjawab ” Jamkesmas, dok. Tapi ini sepertinya sudah mau habis.” Dokter berkata lagi ” Waduh bagaimana ya pak, soalnya kalo keputus sayang banget pak.” Bapak itu menjawab dengan menangis ” Iya dok, untuk sementara ya diobati dulu lah pokoknya, nanti selanjutnya saya cari cara untuk bisa bayar. Yang penting anak saya bisa ngomong dok, saya kasian.” Melihat itu,gw udah ga sanggup, hati ini bergejolak ngeliat kasih seorang Ayah pada anaknya. Bahkan saat mau keluar ruang poli, sang bapak sempet berhenti menghadap tembok sebentar untuk menghapus air matanya agar tidak terlihat orang lain bahwa dia sempat menangis.
Lalu gw tiba-tiba teringat dengan bapak & mama. Mereka orangtua gw yang juga mengasihi gw dengan caranya sendiri. Mereka ga pernah ngasih uang jajan lebih, selalu pas-pasan. Awalnya gw sempet sebel, tapi dibalik itu gw tau kalau mereka pengen ngajarin gw gimana menghargai uang, gimana berhemat. Bapak juga sering bilang ” Lebih baik terlihat tidak mampu, eh ternyata mampu, daripada terlihat mampu, eh ternyata ga mampu.” Mereka selalu berusaha terlihat tidak memperhatikan gw, tapi sempat saat gw tidur (setengah tertidur soalnya gw masih bisa nguping, hehe) mereka ngobrol dan mama berkata “Anak kita sudah besar ya pak, padahal dulu kayaknya masih TK, gendong tas kelinci sambil nyanyi gelang sipatu gelang.” Yup mereka punya cara sendiri mengasihi gw.
Dan tiba-tiba gw teringat juga dengan Bapa gw yang di sorga. Dia punya cara sendiri untuk mengasihi gw, dan sampe sekarang gw ga ngerti kenapa Dia mau ngasih AnakNya buat gw.
” Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7:11
Selamat Natal, Bapa mengasihimu, marilah mengasihi orang lain di sekitarmu juga. Bagikan sukacita natal bersama yang lain.
Kesiangan bisa menyebabkan Low Back Pain?
21 Des 2011 7 Komentar
in Kesehatan
Pernah ngerasain sakit di punggung bawah? Terus sering dibilang LBP? Atau dalam bahasa jawanya “boyo’en”? Lho kok kesiangan bisa menyebabkan LBP? Nah, kita bahas tentang LBP yuk, khususnya pada usia muda.
Apa sih LBP itu? LBP (Low Back Pain) adalah suatu sindroma atau kumpulan gejala berupa nyeri di bagian punggung bawah. LBP ini bukan merupakan suatu diagnosis, tapi hanya berupa gejala yang disebabkan berbagai macam penyebab.
Penyebab LBP, yaitu:
- Trauma atau benturan
- Kesalahan posisi
- Infeksi
- Neoplasma/kanker
- Degenerasi (pada orang tua)
- Kongenital
Nah kalau pada orang muda, LBP kebanyakan disebabkan oleh kesalahan posisi. Posisi apa ya? Jadi cara mencegahnya gimana dong?
Ada yang disebut Proper Back Mechanic. PBM ini adalah berbagai gerakan yang tepat untuk punggung. Sadar atau ga sadar, seringkali kita ngelakuin gerakan yang justru membuat LBP itu sendiri. Berikut adalah berbagai PBM yang bisa kita terapkan untuk menghindari terjadinya LBP.
1. Usahakan saat mengangkat barang yang terletak di bawah, jangan langsung membungkuk, jadi jongkok terlebih dahulu baru diangkat. Lalu usahakan dekatkan barang ke bagian tubuh saat diangkat.
2. Posisikan kaki secara seimbang saat mendorong atau menarik sesuatu. Hal ini berguna untuk keseimbangan tubuh untuk mengurangi terjadinya cedera pada punggung.
3. Posisikan punggung secara tegak ketika duduk. Jangan miring-miring, selain dapat menyebabkan LBP, sikap duduk yang salah dapat menyebabkan kelainan bentuk punggung.
4. Nah ini nih yang paling terakhir, yang paling sering menyebabkan LBP pada usia muda. Hayoo ngaku, siapa yang sering kesiangan?? Sayaa (gw juga ngaku, haha). Apa akibat dari kesiangan? Kita sering loncat dari tempat tidur setelah tahu bahwa waktu kita untuk sampe kantor/sekolah tinggal beberapa menit lagi. Bener ga?? hehe. Nah jadi, ketika kita bangun tidur itu, saraf-saraf yang ada di punggung dalam keadaan relaksasi istilahnya, jadi biar ga kaget kita lakukan pemanasan sedikit (ya bukan pemanasan juga sih
) Hal pertama yang harus kita lakukan saat bangun tidur adalah miringkan tubuh ke kanan atau ke kiri dulu. Setelah itu, duduk dulu di tempat tidur, barulah bangun dari tempat tidur. Dan yang paling penting jangan kesiangan, biar inget cara-cara bangun tidur ini, soalnya kalo kesiangan pasti langsung loncat ke kamar mandi (curcol, haha).
Sekian pembahasan LBP dari saya, semoga bermanfaat
Ajaran Sang Lawu
08 Des 2011 4 Komentar
in Perenungan, travelling
Tanggal 26 November 2011 kemarin, gw dan 5 orang temen gw lainnya berangkat ke Gunung Lawu (3265 mdpl). Emang sih, naik gunung udah direncanain dari beberapa minggu lalu, gara2 penatnya dunia per-coass-an, haha. Tapi ga ada yang mastiin buat berani berangkat jalan karena emang jadwal coass yang ga pernah pasti. Hingga akhirnya jumat malam tanggal 25, si Tito sms gw “ Yur, jd naik gunung ga?” Jiaaah gw langsung aja nge-iya-in, emang gila, bener-bener gila. H-1 baru mutusin jadi berangkat, haha. Sempet ragu juga buat naik, soalnya ternyata tanggal 26 itu malam 1 suro, yang menurut kepercayaan orang jawa mending ga usah keluar rumah, dan ada ritual-ritual yang dilakukan oleh warga setempat di atas gunung Lawu. Tapi emang dasar ni 6 orang udah ngebet banget sama gunung, maka berangkatlah kami ber-6, gw, Dewi, Tya, Tito, Fenda, dan mas ardi.
Kami berangkat dari Solo pukul 15.00 dengan 3 motor. Lalu kami sampai di Cemoro Sewu pukul 16.30, lalu kami istirahat makan dan temen-temen gw sholat. Sempet takut juga buat naik, karena selama perjalanan, gw ngeliat orang-orang bawa keris dan sebagainya. Tapi emang dasar nekat, haha. Kami memutuskan untuk mendaki lewat Cemoro Sewu (Magetan Jawa Timur) karena dibandingkan dengan Cemoro Kandang (Jawa Tengah), Cemoro Sewu jaraknya lebih dekat untuk sampai ke puncak, walaupun medannya sungguh berat, I’m sure. Untuk mendaki kami dikenai biaya Rp. 5000,- per orang.
Kami mulai mendaki pukul 17.30. Pelajaran pertama yang bisa gw ambil dari Lawu adalah setia kawan. Yup, dalam pendakian ini bener-bener dituntut kesetiakawanannya. Kami mendaki selama 6 jam untuk sampai ke pos 5, pos terakhir dari Lawu. Seperti udah gw bilang, medan pendakian ini berat menurut gw. Dan 3 orang di antara kami adalah wanita yang notabene kekuatannya tidak bisa disamakan seperti pria. Sungguh beruntung membawa ketiga pria ini, karena mereka dengan baiknya, membawa carrier sedangkan para wanita membawa bagpack. Para pria membawa tenda dan peralatan lainnya, sedangkan para wanita hanya membawa makanan, haha. Tapi emang dasar manusia, kami keluputan ga bawa kompor, padahal udah berencana ntar di puncak bakal masak-masak, eh ga jadi deh. Untung di puncak sana ada warung, jadi kami ga kelaperan. Nah meskipun para wanita cuma membawa bagpack, tapi tetep aja kecapean. Jalan beberapa menit, berhenti istirahat, tapi dengan sabar para pria menunggui kami, padahal kalo sering berhenti itu malah tambah cape. Tapi justru disinilah seni naik gunung, setia kawan
Meskipun ini pendakian gw yang kedua, tapi tetep aja gw ngerasa medan ini cukup berat. Dari sini gw belajar menikmati proses. Bayangkan saja, mendaki tangga demi tangga yang tingginya hampir satu meter dan itu jauuuuuh banget dan bawa barang-barang berat (padahal gw bawa makanan doing sama baju :p). Tapi itu menurut gw beraaaat banget. Pada pendakian pertama, gw sempet bilang dalam hati “aduuuh, gw ga bakal mau naik gunung lagi kalo gini.” Karena saking beratnya perjalanan ini. Tapi disinilah uniknya, gw mulai menikmati proses, dibawa santai aja, pasti sampai.
Akhirnya kami sampai pos terakhir pukul 23.45. Lalu kami membuat tenda, dan akhirnya kami makan malam dulu baru tidur. Oia pada nanya ya makanannya dari mana? Kami membawa nasi bungkus yang kami beli tadi di bawah, hehe. Lalu keesokan harinya, kami terbangun pukul 05.00 untuk menyaksikan sunrise. Wow, sunrise di atas gunung itu baguuus banget. Yup gw belajar, tiap proses yang menyakitkan pasti ada hasil yang menggiurkan. Eh sabar dulu, ini belom puncak lho, masih ada puncak yang lebih menggiurkan. Lalu kami bergantian pergi ke warung untuk makan. Setelah itu kami beres-beres tenda. Berangkat lah kami ke puncak pukul 08.00. perjalanan ke puncak masih sekitar 30 menit lagi dari pos 5.
Kami sampai di puncak Hargo Dumilah pukul 08.30. Woooooow, Hargo Dumilah saat itu cerah sekali. Kami menikmati puncak dan foto-foto selama 1,5 jam. Waktu yang lama memang, tapi kami merasa itu kurang untuk melihat keagungan Tuhan yang sangaaat indah. Gw belajar untuk bersyukur untuk setiap yang Tuhan berikan karena begitu besar Kasih Allah akan kita manusia yang ga ada apa-apanya. Gw ga bias ngeliat orang-orang yang ada di bawah, karena saking kecilnya, apalagi Tuhan yang ngeliat kita dari surge, wow kecil banget, tapi Dia tetap mengasihi kita. Oia, di puncak ini juga gw ngucapin kakak gw yang lagi ulang taun. Karena dia seneng naik gunung pada masa mudanya, ya gw ucapin aja di atas gunung, siapa tau dia kangen buat naik gunung lagi. :p
Kami beranjak dari Hargo Dumilah, dan turun. Kami memutuskan untuk turun melalui Cemoro Kandang agar tidak terlalu lelah saat turun. Nah seperti gw bilang tadi, emang jalan di cemoro kandang ga sesulit cemoro sewu, tapi disini jalannya lebih jauh dan muter-muter. Eh beneran deh, sering banget kami ngomong, ini kapan sampainya ya?? Gw belajar disini untuk tetap mengejar hasil mu, walau sepertinya ga sampai-sampai. Yup beneran lho, kami turun melewati cemoro kandang selama 5 jam, padahal kalo lewat cemoro sewu cukup 4 jam. Bayangkan kalo kami menyerah, kami ga bakal pulang-pulang dan hidup sebagai orang utan (orang yang di hutan, red). Tapi kami tetap berusaha hingga akhirnya kami sampai di bawah dengan melewati 4 pos. kami sampai di bawah pada pukul 15.00.
Bersyukur kepada Tuhan, gw boleh menikmati hal-hal seperti ini. Trima kasih Lawu, atas pengajaran mu. Dan ga lupa buat temen-temen gw (Dewo, Tya, Tito, Fenda, mas Ardi) yang gw rasa gokiiiil banget, but you are rock, buddy!










