Ajaran Sang Lawu
08 Des 2011 4 Komentar
in Perenungan, travelling
Tanggal 26 November 2011 kemarin, gw dan 5 orang temen gw lainnya berangkat ke Gunung Lawu (3265 mdpl). Emang sih, naik gunung udah direncanain dari beberapa minggu lalu, gara2 penatnya dunia per-coass-an, haha. Tapi ga ada yang mastiin buat berani berangkat jalan karena emang jadwal coass yang ga pernah pasti. Hingga akhirnya jumat malam tanggal 25, si Tito sms gw “ Yur, jd naik gunung ga?” Jiaaah gw langsung aja nge-iya-in, emang gila, bener-bener gila. H-1 baru mutusin jadi berangkat, haha. Sempet ragu juga buat naik, soalnya ternyata tanggal 26 itu malam 1 suro, yang menurut kepercayaan orang jawa mending ga usah keluar rumah, dan ada ritual-ritual yang dilakukan oleh warga setempat di atas gunung Lawu. Tapi emang dasar ni 6 orang udah ngebet banget sama gunung, maka berangkatlah kami ber-6, gw, Dewi, Tya, Tito, Fenda, dan mas ardi.
Kami berangkat dari Solo pukul 15.00 dengan 3 motor. Lalu kami sampai di Cemoro Sewu pukul 16.30, lalu kami istirahat makan dan temen-temen gw sholat. Sempet takut juga buat naik, karena selama perjalanan, gw ngeliat orang-orang bawa keris dan sebagainya. Tapi emang dasar nekat, haha. Kami memutuskan untuk mendaki lewat Cemoro Sewu (Magetan Jawa Timur) karena dibandingkan dengan Cemoro Kandang (Jawa Tengah), Cemoro Sewu jaraknya lebih dekat untuk sampai ke puncak, walaupun medannya sungguh berat, I’m sure. Untuk mendaki kami dikenai biaya Rp. 5000,- per orang.
Kami mulai mendaki pukul 17.30. Pelajaran pertama yang bisa gw ambil dari Lawu adalah setia kawan. Yup, dalam pendakian ini bener-bener dituntut kesetiakawanannya. Kami mendaki selama 6 jam untuk sampai ke pos 5, pos terakhir dari Lawu. Seperti udah gw bilang, medan pendakian ini berat menurut gw. Dan 3 orang di antara kami adalah wanita yang notabene kekuatannya tidak bisa disamakan seperti pria. Sungguh beruntung membawa ketiga pria ini, karena mereka dengan baiknya, membawa carrier sedangkan para wanita membawa bagpack. Para pria membawa tenda dan peralatan lainnya, sedangkan para wanita hanya membawa makanan, haha. Tapi emang dasar manusia, kami keluputan ga bawa kompor, padahal udah berencana ntar di puncak bakal masak-masak, eh ga jadi deh. Untung di puncak sana ada warung, jadi kami ga kelaperan. Nah meskipun para wanita cuma membawa bagpack, tapi tetep aja kecapean. Jalan beberapa menit, berhenti istirahat, tapi dengan sabar para pria menunggui kami, padahal kalo sering berhenti itu malah tambah cape. Tapi justru disinilah seni naik gunung, setia kawan
Meskipun ini pendakian gw yang kedua, tapi tetep aja gw ngerasa medan ini cukup berat. Dari sini gw belajar menikmati proses. Bayangkan saja, mendaki tangga demi tangga yang tingginya hampir satu meter dan itu jauuuuuh banget dan bawa barang-barang berat (padahal gw bawa makanan doing sama baju :p). Tapi itu menurut gw beraaaat banget. Pada pendakian pertama, gw sempet bilang dalam hati “aduuuh, gw ga bakal mau naik gunung lagi kalo gini.” Karena saking beratnya perjalanan ini. Tapi disinilah uniknya, gw mulai menikmati proses, dibawa santai aja, pasti sampai.
Akhirnya kami sampai pos terakhir pukul 23.45. Lalu kami membuat tenda, dan akhirnya kami makan malam dulu baru tidur. Oia pada nanya ya makanannya dari mana? Kami membawa nasi bungkus yang kami beli tadi di bawah, hehe. Lalu keesokan harinya, kami terbangun pukul 05.00 untuk menyaksikan sunrise. Wow, sunrise di atas gunung itu baguuus banget. Yup gw belajar, tiap proses yang menyakitkan pasti ada hasil yang menggiurkan. Eh sabar dulu, ini belom puncak lho, masih ada puncak yang lebih menggiurkan. Lalu kami bergantian pergi ke warung untuk makan. Setelah itu kami beres-beres tenda. Berangkat lah kami ke puncak pukul 08.00. perjalanan ke puncak masih sekitar 30 menit lagi dari pos 5.
Kami sampai di puncak Hargo Dumilah pukul 08.30. Woooooow, Hargo Dumilah saat itu cerah sekali. Kami menikmati puncak dan foto-foto selama 1,5 jam. Waktu yang lama memang, tapi kami merasa itu kurang untuk melihat keagungan Tuhan yang sangaaat indah. Gw belajar untuk bersyukur untuk setiap yang Tuhan berikan karena begitu besar Kasih Allah akan kita manusia yang ga ada apa-apanya. Gw ga bias ngeliat orang-orang yang ada di bawah, karena saking kecilnya, apalagi Tuhan yang ngeliat kita dari surge, wow kecil banget, tapi Dia tetap mengasihi kita. Oia, di puncak ini juga gw ngucapin kakak gw yang lagi ulang taun. Karena dia seneng naik gunung pada masa mudanya, ya gw ucapin aja di atas gunung, siapa tau dia kangen buat naik gunung lagi. :p
Kami beranjak dari Hargo Dumilah, dan turun. Kami memutuskan untuk turun melalui Cemoro Kandang agar tidak terlalu lelah saat turun. Nah seperti gw bilang tadi, emang jalan di cemoro kandang ga sesulit cemoro sewu, tapi disini jalannya lebih jauh dan muter-muter. Eh beneran deh, sering banget kami ngomong, ini kapan sampainya ya?? Gw belajar disini untuk tetap mengejar hasil mu, walau sepertinya ga sampai-sampai. Yup beneran lho, kami turun melewati cemoro kandang selama 5 jam, padahal kalo lewat cemoro sewu cukup 4 jam. Bayangkan kalo kami menyerah, kami ga bakal pulang-pulang dan hidup sebagai orang utan (orang yang di hutan, red). Tapi kami tetap berusaha hingga akhirnya kami sampai di bawah dengan melewati 4 pos. kami sampai di bawah pada pukul 15.00.
Bersyukur kepada Tuhan, gw boleh menikmati hal-hal seperti ini. Trima kasih Lawu, atas pengajaran mu. Dan ga lupa buat temen-temen gw (Dewo, Tya, Tito, Fenda, mas Ardi) yang gw rasa gokiiiil banget, but you are rock, buddy!






Jan 12, 2012 @ 09:42:12
Itu siapa sih temenmu yg lupa bawa kompor??? Dasarrrrrrrrrrrrrr
Jan 16, 2012 @ 00:34:28
oops, oknumnya datang.. ya kamu itu yg ga bawa kompor, hahaha dasar lupuuut
Jan 30, 2012 @ 16:31:06
fenda mah emang kebiasaan yur.. kalo naik gunung itu, alat masak sama konsumsi yang ngurus yg cewe aja, klo cowo yg ngurus emang sering luput,,
Tpai kalo dome dkk biar anak laki aja yang urus.. hehe
Jan 31, 2012 @ 00:31:07
hahaha iya day, harusnya yg cewe ya yg bawa, kemaren yg minjemin kompor si fendul sih, eh dia malah lupa masukin carrier, hadeeh haha..