Kekecewaan terhadap Liga Medika 2012

UUD ’45 pasl 28E ayat 3 “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

Tulisan ini adalah sebuah curhatan berdasarkan kejadian nyata.

Event tahunan yang diselenggarakan oleh salah satu Fakultas Kedokteran ternama di Indonesia ini, telah mengecewakan klub basket di fakultas saya.

Jadi, gini lho ceritanya. Liga Medika ini memang acara tahunan, yang sering kami sudah biasa kami ikuti dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya kami ikut serta dalam bidang basket dan mini soccer. Nah pada tahun-tahun sebelumnya, tertulis di peraturan bahwa peserta yang boleh mengikuti adalah mahasiswa dari Fakultas Kedokteran tanpa menyebutkan program studinya. Sedangkan, Fakultas Kedokteran UNS kan terdiri dari berbagai macam program studi, ada pendidikan dokter, KK (Kesehatan Kerja), Kebidanan, dan Hiperkes. Jadi, biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, kami mengirimkan peserta ya dari Fakultas Kedokteran tanpa memperhitungkan dari program studi mana saja.

Lalu tiba lah pada tahun 2012 ini, kami mendapat proposal invitasi dari Liga Medika 2012. Dalam proposal tersebut juga tidak tercantum bahwa peserta Liga Medika harus dari Fakultas Kedokteran prodi pendidikan dokter, sehingga kami mengira bahwa peraturannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami pun telah mempersiapkan diri, latihan setiap hari, mengumpulkan uang untuk berangkat ke Jakarta. Pada tanggal 19 April 2012, kami sudah mengumpulkan berkas-berkas kami dan membayar uang pendaftaran. Ternyata pada tanggal 24 April 2012 (5 hari setelahnya), barulah kami dikabari bahwa ada peraturan baru, dan katanya sudah tertera di website Liga Medika 2012, bahwa peserta Liga Medika harus dari Fakultas Kedokteran prodi pendidikan dokter. Karena memang tim kami tidak hanya terdiri dari Mahasiswa pendidikan dokter saja, tapi dari prodi lain seperti KK dan Hiperkes. Lalu kami cek ke website tersebut, karena kami memang mau mengikuti lomba basket, maka kami langsung buka peraturan basket, dan ternyata memang tidak ada pernyataan tersebut. Lalu panitia pun menjawab ternyata peraturannya ada di General regulations. Jujur saja, saya pun tidak mengira harus membaca dari general regulations tersebut, karena memang yang ingin diikuti adalah bidang basket ya saya langsung buka yang basket. Jadi proposal dengan peraturan yang ada di web itu berbeda, dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya, apalagi ini peraturan baru, seharusnya ada sosialisasi. Dan saat kami menelepon mereka bilang yang bermasalah atas peraturan ini hanya UNS dan Unibraw, tapi tetep saja mereka sebagai panitia ga merasa bersalah.

Jujur, Saya kecewa. Seharusnya bila ada peraturan baru, mbok ya disosialisasikan. Kami berusaha mencari solusi, karena kami jujur ingin ikut serta dalam event ini, tapi panitia malah berniat mengembalikan uang pendaftaran karena peraturan tidak dapat diganggu gugat, padahal masalahnya karena pemberitahuan yang tidak lengkap. Ya coba dilihat saja, kami sudah mengirimkan berkas 5 hari yang lalu, tapi tidak langsung dikonfirmasi, masih harus menunggu 5 hari baru dikatakan bahwa ada peraturan baru.

Ya mau gimana lagi, intinya ya Saya kecewa. Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran buat tahun depan. Terima kasih

belajar dari sepupu kecilku :)

Suatu hari sepupu kecilku,  Suryo (5th), sedang menonton TV, lalu dia mendengar salah satu kata yang tidak dia mengerti, lalu dia pun bertanya pada ibunya.

Suryo: “Ibu, mandiri itu artinya apa sih?”

Ibunya Suryo: ” Mandiri itu artinya mandi sendiri, makan sendiri, apa-apa sendiri pokoknya.’

Suryo: “Oh gitu ya bu. Ya udah deh bu, aku mau mandiri ya.”

Dan benar saja, sejak saat itu dia mandi dan makan sendiri. Bahkan sampai sekarang saat bertemu gw di rumah mbah gw di Klaten, si suryo kecil sudah mandiri.

Betapa indahnya belajar dari kepolosan anak kecil. Saat dia tidak tahu, dia pun tidak malu bertanya. Dan saat dia mendapati hal itu baik, maka dia akan melakukannya.

Happy New Year 2012, semoga sukses di tahun ini :)

me and Suryo

Menikmati kesendirian

Sebenernya ini tulisan ga jelas, lagi ngerasa sendiri aja.

Ga punya temen (ya temennya lagi sibuk sebenernya), belum punya paca, dan jauh dari keluarga.

Jadi apa yang bisa gw lakuin?

Cuma basket lalu keliling Solo sambil dengerin lagu Cherry Belle :)

Jangan larut karena dirimu sendiri, nikmatilah, dekatkan dirimu pada Sang Pencipta, niscaya kekosongan itu seperti terisi air kehidupan :)

 

Secuil tentang Bapaknya pasien

Berawal dari datangnya seorang bapak ke sebuah poliklinik Rehabilitasi Medik. Yup betul banget, gw lagi stase Rehab Medik. Suatu hari bapak ini datang ke poli RM dengan membawa anaknya, beliau mengeluh bahwa anaknya kok belum bisa ngomong padahal umurnya sudah 2 tahun lebih (hampir 3 tahun lah). Saat menyebutkan keluhannya ini, bapak tersebut sudah mulai berkaca-kaca. Dokter pun bertanya “Sebelumnya sudah bisa ngomong apa pak?” Bapak itu menjawab “Ya dia cuma ngomong sendiri, tapi ga jelas, dulu pas ada ibunya sih bisa ngomong dikit-dikit kayaknya.” “Lho sekarang ibunya mana pak?” “Ibunya sudah pergi dok.” Bapak itu mulai meneteskan air mata. Lalu dokter pun mendiagnosis adanya speech delay pada anak tersebut yang harus diterapi wicara. Dokter bertanya “Pak, ini ada latihan bicara, tapi harus rajin dateng, jangan sampe terputus. Pembayarannya menggunakan apa pak?” Bapak itu pun menjawab ” Jamkesmas, dok. Tapi ini sepertinya sudah mau habis.” Dokter berkata lagi ” Waduh bagaimana ya pak, soalnya kalo keputus sayang banget pak.” Bapak itu menjawab dengan menangis ” Iya dok, untuk sementara ya diobati dulu lah pokoknya, nanti selanjutnya saya cari cara untuk bisa bayar. Yang penting anak saya bisa ngomong dok, saya kasian.” Melihat itu,gw udah ga sanggup, hati ini bergejolak ngeliat kasih seorang Ayah pada anaknya. Bahkan saat mau keluar ruang poli, sang bapak sempet berhenti menghadap tembok sebentar untuk menghapus air matanya agar tidak terlihat orang lain bahwa dia sempat menangis.

Lalu gw tiba-tiba teringat dengan bapak & mama. Mereka orangtua gw yang juga mengasihi gw dengan caranya sendiri. Mereka ga pernah ngasih uang jajan lebih, selalu pas-pasan. Awalnya gw sempet sebel, tapi dibalik itu gw tau kalau mereka pengen ngajarin gw gimana menghargai uang, gimana berhemat. Bapak juga sering bilang ” Lebih baik terlihat tidak mampu, eh ternyata mampu, daripada terlihat mampu, eh ternyata ga mampu.” Mereka selalu berusaha terlihat tidak memperhatikan gw, tapi sempat saat gw tidur (setengah tertidur soalnya gw masih bisa nguping, hehe) mereka ngobrol dan mama berkata “Anak kita sudah besar ya pak, padahal dulu kayaknya masih TK, gendong tas kelinci sambil nyanyi gelang sipatu gelang.” Yup mereka punya cara sendiri mengasihi gw.

Dan tiba-tiba gw teringat juga dengan Bapa gw yang di sorga. Dia punya cara sendiri untuk mengasihi gw, dan sampe sekarang gw ga ngerti kenapa Dia mau ngasih AnakNya buat gw.

” Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7:11

Selamat Natal, Bapa mengasihimu, marilah mengasihi orang lain di sekitarmu juga. Bagikan sukacita natal bersama yang lain.

Christmas Gift :)

Kesiangan bisa menyebabkan Low Back Pain?

Pernah ngerasain sakit di punggung bawah? Terus sering dibilang LBP? Atau dalam bahasa jawanya “boyo’en”? Lho kok kesiangan bisa menyebabkan LBP? Nah, kita bahas tentang LBP yuk, khususnya pada usia muda.
Apa sih LBP itu? LBP (Low Back Pain) adalah suatu sindroma atau kumpulan gejala berupa nyeri di bagian punggung bawah. LBP ini bukan merupakan suatu diagnosis, tapi hanya berupa gejala yang disebabkan berbagai macam penyebab.
Penyebab LBP, yaitu:

  1. Trauma atau benturan
  2. Kesalahan posisi
  3. Infeksi
  4. Neoplasma/kanker
  5. Degenerasi (pada orang tua)
  6. Kongenital

Nah kalau pada orang muda, LBP kebanyakan disebabkan oleh kesalahan posisi. Posisi apa ya? Jadi cara mencegahnya gimana dong?
Ada yang disebut Proper Back Mechanic. PBM ini adalah berbagai gerakan yang tepat untuk punggung. Sadar atau ga sadar, seringkali kita ngelakuin gerakan yang justru membuat LBP itu sendiri. Berikut adalah berbagai PBM yang bisa kita terapkan untuk menghindari terjadinya LBP.
1. Usahakan saat mengangkat barang yang terletak di bawah, jangan langsung membungkuk, jadi jongkok terlebih dahulu baru diangkat. Lalu usahakan dekatkan barang ke bagian tubuh saat diangkat.

Sikap Tubuh yang tepat saat mengangkat barang

2. Posisikan kaki secara seimbang saat mendorong atau menarik sesuatu. Hal ini berguna untuk keseimbangan tubuh untuk mengurangi terjadinya cedera pada punggung.

perhatikan sikap kakinya

3. Posisikan punggung secara tegak ketika duduk. Jangan miring-miring, selain dapat menyebabkan LBP, sikap duduk yang salah dapat menyebabkan kelainan bentuk punggung.

sikap duduk yang tepat

4. Nah ini nih yang paling terakhir, yang paling sering menyebabkan LBP pada usia muda. Hayoo ngaku, siapa yang sering kesiangan?? Sayaa (gw juga ngaku, haha). Apa akibat dari kesiangan? Kita sering loncat dari tempat tidur setelah tahu bahwa waktu kita untuk sampe kantor/sekolah tinggal beberapa menit lagi. Bener ga?? hehe. Nah jadi, ketika kita bangun tidur itu, saraf-saraf yang ada di punggung dalam keadaan relaksasi istilahnya, jadi biar ga kaget kita lakukan pemanasan sedikit (ya bukan pemanasan juga sih :D ) Hal pertama yang harus kita lakukan saat bangun tidur adalah miringkan tubuh ke kanan atau ke kiri dulu. Setelah itu, duduk dulu di tempat tidur, barulah bangun dari tempat tidur. Dan yang paling penting jangan kesiangan, biar inget cara-cara bangun tidur ini, soalnya kalo kesiangan pasti langsung loncat ke kamar mandi (curcol, haha).

Sekian pembahasan LBP dari saya, semoga bermanfaat :)

 

Ajaran Sang Lawu

Tanggal 26 November 2011 kemarin, gw dan 5 orang temen gw lainnya berangkat ke Gunung Lawu (3265 mdpl). Emang sih, naik gunung udah direncanain dari beberapa minggu lalu, gara2 penatnya dunia per-coass-an, haha. Tapi ga ada yang mastiin buat berani berangkat jalan karena emang jadwal coass yang ga pernah pasti. Hingga akhirnya jumat malam tanggal 25, si Tito sms gw “ Yur, jd naik gunung ga?” Jiaaah gw langsung aja nge-iya-in, emang gila, bener-bener gila. H-1 baru mutusin jadi berangkat, haha. Sempet ragu juga buat naik, soalnya ternyata tanggal 26 itu malam 1 suro, yang menurut kepercayaan orang jawa mending ga usah keluar rumah, dan ada ritual-ritual yang dilakukan oleh warga setempat di atas gunung Lawu. Tapi emang dasar ni 6 orang udah ngebet banget sama gunung, maka berangkatlah kami ber-6, gw, Dewi, Tya, Tito, Fenda, dan mas ardi.

Kami berangkat dari Solo pukul 15.00 dengan 3 motor. Lalu kami sampai di Cemoro Sewu pukul 16.30, lalu kami istirahat makan dan temen-temen gw sholat. Sempet takut juga buat naik, karena selama perjalanan, gw ngeliat orang-orang bawa keris dan sebagainya. Tapi emang dasar nekat, haha. Kami memutuskan untuk mendaki lewat Cemoro Sewu (Magetan Jawa Timur) karena dibandingkan dengan Cemoro Kandang (Jawa Tengah), Cemoro Sewu jaraknya lebih dekat untuk sampai ke puncak, walaupun medannya sungguh berat, I’m sure. Untuk mendaki kami dikenai biaya Rp. 5000,- per orang.

Kami mulai mendaki pukul 17.30. Pelajaran pertama yang bisa gw ambil dari Lawu adalah setia kawan. Yup, dalam pendakian ini bener-bener dituntut kesetiakawanannya. Kami mendaki selama 6 jam untuk sampai ke pos 5, pos terakhir dari Lawu. Seperti udah gw bilang, medan pendakian ini berat menurut gw. Dan 3 orang di antara kami adalah wanita yang notabene kekuatannya tidak bisa disamakan seperti pria. Sungguh beruntung membawa ketiga pria ini, karena mereka dengan baiknya, membawa carrier sedangkan para wanita membawa bagpack. Para pria membawa tenda dan peralatan lainnya, sedangkan para wanita hanya membawa makanan, haha. Tapi emang dasar manusia, kami keluputan ga bawa kompor, padahal udah berencana ntar di puncak bakal masak-masak, eh ga jadi deh. Untung di puncak sana ada warung, jadi kami ga kelaperan. Nah meskipun para wanita cuma membawa bagpack, tapi tetep aja kecapean. Jalan beberapa menit, berhenti istirahat, tapi dengan sabar para pria menunggui kami, padahal kalo sering berhenti itu malah tambah cape. Tapi justru disinilah seni naik gunung, setia kawan :)

Meskipun ini pendakian gw yang kedua, tapi tetep aja gw ngerasa medan ini cukup berat. Dari sini gw belajar menikmati proses. Bayangkan saja, mendaki tangga demi tangga yang tingginya hampir satu meter dan itu jauuuuuh banget dan bawa barang-barang berat (padahal gw bawa makanan doing sama baju :p). Tapi itu menurut gw beraaaat banget. Pada pendakian pertama, gw sempet bilang dalam hati “aduuuh, gw ga bakal mau naik gunung lagi kalo gini.” Karena saking beratnya perjalanan ini. Tapi disinilah uniknya, gw mulai menikmati proses, dibawa santai aja, pasti sampai.

3 wanita tangguh :p

Akhirnya kami sampai pos terakhir pukul 23.45. Lalu kami membuat tenda, dan akhirnya kami makan malam dulu baru tidur. Oia pada nanya ya makanannya dari mana? Kami membawa nasi bungkus yang kami beli tadi di bawah, hehe. Lalu keesokan harinya, kami terbangun pukul 05.00 untuk menyaksikan sunrise. Wow, sunrise di atas gunung itu baguuus banget. Yup gw belajar, tiap proses yang menyakitkan pasti ada hasil yang menggiurkan. Eh sabar dulu, ini belom puncak lho, masih ada puncak yang lebih menggiurkan. Lalu kami bergantian pergi ke warung untuk makan. Setelah itu kami beres-beres tenda. Berangkat lah kami ke puncak pukul 08.00. perjalanan ke puncak masih sekitar 30 menit lagi dari pos 5.

sunrise (orangnya ga penting, yang penting sunrisenya)

Kami sampai di puncak Hargo Dumilah pukul 08.30. Woooooow, Hargo Dumilah saat itu cerah sekali. Kami menikmati puncak dan foto-foto selama 1,5 jam. Waktu yang lama memang, tapi kami merasa itu kurang untuk melihat keagungan Tuhan yang sangaaat indah. Gw belajar untuk bersyukur  untuk setiap yang Tuhan berikan karena begitu besar Kasih Allah akan kita manusia yang ga ada apa-apanya. Gw ga bias ngeliat orang-orang yang ada di bawah, karena saking kecilnya, apalagi Tuhan yang ngeliat kita dari surge, wow kecil banget, tapi Dia tetap mengasihi kita. Oia, di puncak ini juga gw ngucapin kakak gw yang lagi ulang taun. Karena dia seneng naik gunung pada masa mudanya, ya gw ucapin aja di atas gunung, siapa tau dia kangen buat naik gunung lagi. :p

Hago Dumilah

untuk kakak ku :)

Kami beranjak dari Hargo Dumilah, dan turun. Kami memutuskan untuk turun melalui Cemoro Kandang agar tidak terlalu lelah saat turun. Nah seperti gw bilang tadi, emang jalan di cemoro kandang ga sesulit cemoro sewu, tapi disini jalannya lebih jauh dan muter-muter. Eh beneran deh, sering banget kami ngomong, ini kapan sampainya ya?? Gw belajar disini untuk tetap mengejar hasil mu, walau sepertinya ga sampai-sampai.  Yup beneran lho, kami turun melewati cemoro kandang selama 5 jam, padahal kalo lewat cemoro sewu cukup 4 jam. Bayangkan kalo kami menyerah, kami ga bakal pulang-pulang dan hidup sebagai orang utan (orang yang di hutan, red).  Tapi kami tetap berusaha hingga akhirnya kami sampai di bawah dengan melewati 4 pos. kami sampai di bawah pada pukul 15.00.

narsis sebelum turun

Bersyukur kepada Tuhan, gw boleh menikmati hal-hal seperti ini. Trima kasih Lawu, atas pengajaran mu. Dan ga lupa buat temen-temen gw (Dewo, Tya, Tito, Fenda, mas Ardi) yang gw rasa gokiiiil banget, but you are rock, buddy!

6 muda-mudi nekat :)

Semua orang harus bs melakukan RJP/CPR?

RJP (Resusitasi Jantung Paru) atau CPR ( Cor Pulmo Resuscitation) adalah bantuan hidup dasar. Biasa dikenal dengan napas bantuan dan pijat jantung. Mungkin ketrampilan ini kurang familiar bagi masyarakat kita, padahal ketrampilan ini sangat dibutuhkan, khususnya bagi kita yg sering berada di jalanan. Perlu diketahui, di negara maju, ketrampilan ini bahkan bs dilakukan oleh  supir truk sekalipun. Sebenarnya gw jg ga tau mreka belajar drmn, tp mungkin aja mreka googling krn mreka tau pentingnya RJP ini, atau mreka hanya melihat dr  film2 yg beredar di sana (jujur gw akui, film mreka sungguh berbobot). Kenapa sih RJP ini penting? Yup seperti td yg gw bilang, RJP ini bantuan hidup dasar, sangat penting dilakukan saat kita melihat orang2 yang mengalami kecelakaan, tersetrum listrik, terjatuh dari pohon, keracunan, serangan jantung, dan berbagai hal kedaruratan lainnya. Ingat, hidup-mati bukan di tangan kita, tp paling ga kita udah membantu. So, apakah semua orang hrs bs melakukan RJP? Menurut gw, iya smua orang harus bisa. Berikut langkah2 utk melakukan RJP, semoga bisa membantu saat di jalanan.

Prinsip pertama yang harus diterapkan pertama kali saat melihat korban adalah mengamankan posisi korban. Apabila korban berada di tengah jalan, bawa korban ke pinggir jalan. Tp ingat, membawa korban harus dengan posisi yang aman. Pada kecelakaan yang paling utama harus dicurigai adalah patah tulang leher, untuk itu saat memindahkan, pastikan leher tidak bergeser posisinya, bisa dilakukan dengan menjepit leher dengan sandal jepit atau Koran, atau benda apapun utk memfiksasi/melingkari leher agar tidak bergeser.

Periksa kesadaran

Setelah posisi aman, minta bantuan orang sekitar utk memanggil ambulans.

Lalu kita periksa kesadaran pasien. Kita panggil korban “Pak, pak!!” Atau “Bu,  bu!!”, sambil kita melakukan rangsang nyeri. Bisa dilakukan dengan menggoyangkan bahu, mencubit kelopak mata bagian atas, menekan tulang dada bagian tengah (sternum). Ingat, rangsang nyeri ini bukan utk menambah penderitaan korban, tp utk memastikan kesadaran korban.

Setelah itu kita memakai prinsip ABC ( Airway, Breathing, Circulation)

  1. Periksa Airway atau jalan napas

Apabila saat kita memeriksa kesadaran, korban itu masih sadar dan bisa bicara, sdh dapat dipastikan bahwa jalan napas korban masih terbuka. Tetapi apabila korban tidak sadar, segera periksa jalan napas. Periksa airway dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu chin lift, jaw thrust dan head tilt. Apabila curiga ada patah tulang leher, metode yang paling aman yaitu jaw thrust. Tarik lidah bila lidah jatuh ke belakang sehingga menutup jalan napas. Lihat juga adakah benda asing yang menutup jalan napas. Misalkan ada cairan, dpt gunakan kain utk membersihkan jalan napas.

Head tilt and chin lift

jaw thrust

  1. Periksa Breathing atau pernapasan

Setelah kita yakin jalan napas sudah tidak ada hambatan, periksa pernapasan pasien. Dilakukan secara bersamaan dengan metode look, feel, listen, penolong mendekatkan diri ke korban. Look yaitu melihat pergerakan dinding dada, feel merasakan hembusan napas dr hidung, dan listen mendengarkan suara napas dari hidung. Apabila korban masih dapat bernapas spontan, kita bisa melanjutkan ke langkah berikutnya. Apabila tidak napas spontan, lakukan napas buatan mulut-mulut, sambil menutup hidung korban, bias juga dengan mulut-hidung. Berikan bantuan napas pertama sebanyak 2x, 2 detik per napas, kira2 volume udara yg diberikan 800-1200ml. Bantuan napas ini dikatakan berhasil (masuk dlm paru) bila saat memberi napas buatan, dada korban mengembang.

Periksa airway

  1. Periksa Circulation atau sirkulasi pembuluh darah

Setelah memberi napas buatan sebanyak 2x, periksa denyut nadi di arteri carotis eksterna (di leher), arteri radialis (di pergelangan tangan), arteri femoralis (di lipatan paha). Apabila tidak terdapat denyut nadi, segera lakukan pijat jantung. Posisi tangan penolong berada di dada pasien, yaitu 2 jari di atas proc.xiphoideus atau 2 jari di atas dari ujung bawah tulang dada bagian tengah. Lakukan pijat jantung dengan kecepatan kira-kira 80-100kali per menit, ya kira-kira 2pijat jantung per detik. Pijat jantung diberikan kira-kira sedalam 4-5cm. untuk bayi, dilakukan pijat jantung cukup dengan dua jari (bukan kedua tangan) Berikan pijat jantung sebanyak 30x, lalu diselingi bantuan napas sebanyak 2x. Lakukan sebanyak 5x siklus, lalu periksa denyut nadi lg. Apabila teraba denyut nadi, lakukan bantuan ini terus hingga bantuan datang. Apabila sudah teraba, posisikan pasien dengan posisi mantap (posisi miring untuk menghindari tertutupnya jalan napas).

raba arteri carotis

Menentukan titik pijat jantung

Letak pijat jantung

Posisi pijat jantung

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat, jgn ragu untuk menolong orang ya. Tulisan di atas sebisa mungkin dibuat dalam bahasa sehari-hari, apabila ada yg ingin ditanyakan, saya bersedia menjawab selagi bias membantu :)

Dedicated to: seorang ibu korban kecelakaan rabu 17/11/11, yg tidak tertolong krn terdapat perdarahan di otak (SDH frontotemporal), semoga keluarganya diberi penghiburan.

Sumber: bahan kuliah FK UNS

Idealisme yang Mulai Luntur

Tiba-tiba pengen nulis tentang idealisme. Tadi pagi salah satu guru gw menceritakan tentang ke-idealisme-an anaknya. Beliau mengatakan bahwa anaknya pernah berkata “Pak, rasanya tuh ga enak minta uang dari pasien. Mereka udah dateng ke kita karena sakit, eh kita terima bayarannya jg.” Lalu guru melanjutkan “ Mungkin karena dia masih baru jd dokter, jam terbangnya blom banyak, tp justru orang-orang muda yang masih punya idealisme itu perlu dipelihara agar negara ini maju.”

Yup, bener itu idealisme perlu dipelihara. Jujur, gw “dulu” orang yang mempunyai idealism tinggi. Tp entah kenapa sekarang mulai luntur. Jaman gw sebelum coass, gw tuh anti bgt dah yg namanya percontekan dan memberi contekan. Terus gw berusaha sebisa mungkin ga telat, ya paling lama 15 menit lah (batas telat menurut gw), klo pun ternyata hrs telat, gw pasti blg ke orang yg janjian sm gw. Dulu gw selalu ngomong di dpn orang langsung klo gw ga setuju dgn dia, bukan ngomong di belakangnya. Gw tuh dulu pengen bgt jd dokter yang bener-bener okeh, care sm pasien, ga cm mikirin duit, ky yg selama ini gw liat.

Nah tp sekarang, pas gw udah coass, gw mulai nyontek lg man! Alesannya apa? Aduuuh ga sempet belajar, kmrn jaga atau kmrn pergi, biasalah ada libur sehari dimanfaatin buat seneng2 biar ga stress, atau ah pretest ga masuk nilai, liat buku jg ga apa2. Tp gw masih bersyukur Tuhan masih ngingetin gw itu salah, cb klo gw ga inget itu salah, grr. Mengenai masalah keterlambatan, ya jujur gw mulai telat, ya walopun gw msh tetep bilang ke org yg janjian sm gw, tp kali ini gw telat krn disengaja, hiks. Sekarang gw jg mulai ngomongin orang di belakang klo ga suka. Ya walopun seringkali gw ttp ngomong di dpnnya tp ga langsung to the point, pke acr muter2 dlu ngomongnya. Kok bs gitu? Gw ngerasa, di lingkungan ini ga bs klo gw ky dulu. Di sini terkenal dgn bahasa “pekewuh” atau sungkan. Ya klo ga suka diem aja tp diomongin di belakang. Sebenernya gw ga suka dgn perilaku ini, tp klo ga ky ini kehidupan gw pasti ga lancar, hiks. Ya tp gw masih ttp ngomong sih klo ga suka, tp dgn cr yg halus, ga to the point. Tp dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak, gw hrs bs menghargai dan menempatkan diri, klo orang itu ga mau ditegur ya sebisa mungkin gw menghargainya, tp ga menyingkirkan idealism gw jg, jd ya cari cara lah biar sm2 seneng.

Dan issue terakhir nih yg paling bikin gw sedih, dulu sebelum coass gw maunya jd dokter yg care sm pasien. Gw bertekad, nanti pas coass, sebisa mungkin gw belajar mengasihi mereka. Tp nyatanya skrg pas coass, aduuuuh pas follow up aja gw cm bs blg “Pripun pak? Apa sing diraoske sak niki?” abis itu gw ngeloyor pergi. Dan gw cm nulis hasil follow up-an gw di statusnya tanpa mikirin pasien gw lg. knp bs begitu? Seringkali hati nurani gw blg “perhatiin pasien mu lebih lg, mungkin aja dia pengen cerita keluh kesahnya.” Tp gw selalu menyangkal, aduh ini bentar lg bimbingan ga sempet, atau ya msh banyak pasien  yg hrs di follow up, ga bakal sempet lah dengerin satu2. Dan yang paling parah adalah gw seperti mati rasa ketika ada pasien yg mau meninggal atau keadaannya udah gawat. Seringkali pas jaga disuru monitoring pasien gawat per jam. Ya gw ttp monitoring, tp ketika pasiennya sekarat atau bahkan udah meninggal sekalipun, knp gw ga sedih? Dan  hati nurani gw pun sering berkata “kok ga sedih? Mereka manusia lho, dan kamu ga tau kan klo mereka udah diselamatkan atau belum.” Gw cm berdalih, lah buat apa sedih, klo mereka udah gawat, emang gw bs berbuat apa? Ya emang sih ada waktu untuk menceritakan keselamatan, tp apa keluarganya mengizinkan? Jujur, semenjak coass gw ngerasa mati rasa. Gw lebih mikirin tugas yg seabrek, gw mikirin ngejar ttd staf, dan berbagai hal lainnya ttg diri gw demi lulusnya gw sbg dokter. Gw ga pernah mikirin ttg pasien, gw cm ngejadiin mereka sbg bahan pelajaran gw, dimana gw bs mencocokan apa yang ada di buku dengan kenyataannya.

Lalu kemana rasa idealism gw slama ini? Ga mungkin hilang begitu aja kan? Bersyukurnya gw masih diingetin Tuhan utk berubah, msh punya hati nurani yg bkin gw feeling guilty. Dan terima kasih buat dr.IBM yg udah ngajarin ttg memelihara idealisme. Itu baik, dan itu perlu. Biarlah gw mulai belajar lg, utk menjalankan visi-misi gw yg udah dibuat dulu. Dan belajar utk tidak merugikan orang lain dengan rasa idealisme yang gw miliki. Terima kasih :)

antara Osteoporosis dan Osteoarthritis…

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Balakang

Tubuh manusia terdiri dari beberapa sistem organ. Salah satu di antaranya adalah tulang. Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk alat gerak pasif, pembentuk tubuh, proteksi alat-alat di dalam tubuh, metabolisme kalsium dan mineral, dan organ hemopoetik. Tulang juga merupakan jaringan ikat yang dinamis yang selalu diperbaharui melalui proses remodeling yang terdiri dari proses resorpsi dan formasi. Tulang terdiri dari beberapa sel, yaitu osteoblas, osteoklas, dan osteosit yang mepunyai peranannya masing-masing (Price dan Lorraine, 2006).

Seperti yang telah disebutkan, tulang mempunyai peranan yang sangat penting dalam tubuh manusia. Tetapi tulang juga dapat mengalami patologi seperti osteomielitis, osteoporosis, osteoarthritis, dan lainnya. Dalam penulisan kali ini, penulis akan membahas tentang osteoarthritis dan osteoporosis.

Osteoarthritis adalah penyakit sendi degeneratif non inflamasi yang terutama terjadi pada orang tua, ditandai dengan degenarasi tulang rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepinya dan perubahan pada membran sinovial (Dorland, 2007). Akibat daripada perubahan sel-sel tersebut, tulang rawan akhirnya menjadi haus dan membentuk retakan-retakan pada permukaan sendi. Rongga kecil akan terbentuk di dalam sumsum tulang di bawah tulang rawan tersebut, sehingga tulang yang berkenaan menjadi rapuh. Tubuh kita akan berusaha untuk memperbaiki kerosakan tersebut. Tetapi proses membaik pulih yang dilakukan oleh tubuh mungkin tidak memadai, mengakibatkan timbulnya bengkakan pada hujung sendi (osteofit) yang menyebabkan rasa ngilu.

Pada akhirnya permukaan tulang rawan akan berubah menjadi kasar dan berlubang-lubang sehingga sendi tidak lagi bisa bergerak secara halus. Semua komponen yang ada pada sendi (tulang, kapsul sendi, jaringan sinovial, tendon, dan tulang rawan) mengalami kegagalan dan terjadi kekakuan sendi.

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Oleh karena gejala osteoarthritis dan osteoporosis yang menganggu dan epidemiologinya yang sering pada orang lanjut usia maka dalam penulisan kali ini, penulis akan membahas osteoarhtritis dan osteoporosis secara keseluruhan mencakup etiologi, patofisiologi, epidemiologi, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan penunjang serta penatalaksanaannya.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Skenario 2:

Seorang perempuan, 60 tahun, mengeluh nyeri sendi pada lutut kirinya, terutama saat jalan dan naik tangga. Keluhan ini timbul sejak 2 tahun dan kambuh-kambuhan sehingga mengganggu pekerjaannya sebagai kuli gendong, biasanya diobati sendiri dengan minum obat bebas yang dibeli tanpa resep. Karena tidak kunjung sembuh, penderita periksa ke dokter, dari hasil pemeriksaan lutut kiri didapatkan: tanda-tanda radang dan keterbatasan ROM. Selanjutnya dilakukan foto roentgen, hasilnya tampak osteofit ke arah osteoarthritis. Penderita juga diperiksa Bone Marrow Density (BMD), didapatkan hasil osteoporosis (OA). Kemudian disarankan untuk pemeriksaan darah, dengan hasil CRP meningkat, rheumatoid factor negative. Pasien diberi obat untuk OA dan osteoporosis serta dokter menyarankan untuk mengkonsultasikan ke bagian rehabilitasi medik.

Berdasarkan skenario diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana anatomi dan histologi dari sendi?
  2. Apa definisi dari osteoarthritis dan osteoporosis?
    1. Bagaimana etiologi, patofisiologi, faktor risiko, pemeriksaan fisik dan penatalaksanaan yang tepat dari osteoarthritis dan osteoporosis?
  3. Adakah hubungan antara penyakit dan pekerjaan pasien?
    1. Adakah hubungan antara penyakit dan obat bebas yang dikonsumsi pasien? Bagaimana mekanismenya?
    2. Mengapa rehabilitasi medik diperlukan untuk penatalaksanaan osteoarthritis dan osteoporosis? Bagaimana rehabilitasi mediknya?
    3. C.    Tujuan Penulisan
      1. Untuk mengetahui anatomi dan histology dari sendi
      2. Untuk mengetahui definisi dari osteoarthritis dan osteoporosis.
      3. Untuk mengetahui etiologi, patofisiologi dan faktor risiko dari osteoarhtritis dan osteoporosis.
      4. Untuk mengetahui cara penegakkan diagnosis yang meliputi pemeriksaan fisik, laboratorium, penunjang untuk osteoarthritis dan osteoporosis.
      5. Untuk mengetahui penatalaksanaan terbaik yang dapat diberikan terhadap pasien, yang di antaranya adalah rehabilitasi medik.

 

  1. D.    Manfaat Penulisan

Dengan penulisan laporan ini diharapkan mahasiswa dapat menetapkan diagnosis atau differensial diagnosa berbagai penyakit dalam bidang muskuloskeletal, mampu melakukan prosedur klinik dan laboratorium dalam bidang muskuloskeletal, dan mampu menerapkan konsep dan prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan epidemilogi kesehatan masyarakat dalam bidang muskuloskeletal.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

  1. A.    Anatomi dan Histologi Sendi dan Tulang Rawan Sendi

Sendi adalah hubungan antar tulang, baik yang memungkinkan tulang-tulang tersebut dapat bergerak satu sama lain, maupun tidak dapat bergerak satu sama lain. Ada dua kelompok sendi dalam tubuh manusia, yaitu:

  1. Synarthrosis yaitu hubungan antar tulang dilakukan oleh jaringan penghubung. Menurut jaringan penghubungnya maka synarthrosis dibagi menjadi tiga, yaitu:
  1. Syndesmosis : jaringan penghubungnya adalah jaringan pengikat.

Contohnya pada sutura, syndesmosis elastica (antara arcus vertebrae dengan ligamentum flavum), dll.

  1. Synchondrosis : tulang rawan sebagai jaringan penghubung.

Contoh pada discus epiphyseos antara manubrium sterni dengan corpus sterni.

  1. Synostosis : tulang sebagai jaringan penghubung

Contoh pada Os.coxae

  1. Diarthrosis yaitu hubungan antara tulang satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh jarak tertentu karena adanya rongga (cavum articulare) sehingga gerakannya lebih bebas. Diarthrosis ada dua jenis, yaitu:
  1. Amphiartrosis yang menyebabkan gerakan sendi sangat terbatas karena cavum articularenya sempit. Contoh pada symphisis pubis.
  2. Diarthrosis yang menyebabkan gerakan yang luas.

 

Ditinjau dari kemungkinan gerak suatu persendian, maka sendi dibagi menjadi 3 kelompok:

  1. Sendi dengan satu axis uniaxial

-          Gynglimus (hinge joint)

Sendi ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi. Contoh pada articulation humeroulnaris articulatio interphalangea.

-          Articulatio trochoidea (pivot joint)

Sendi ini memungkinkan gerakan supinasi dan pronasi. Contoh articulatio radioulnaris, articulatio atlantodentalis.

-          Articulatio trochlearis, pada articulatio humeroulnaris, ariculatio cubiti.

-          Arthrosis (plana joint), pada articulatio acromioclaviculares, articulations intercarpales, articulation intertarsalia.

  1. Sendi dengan dua axis biaxial

-          Articulatio ellipsoidea (condyloid joint), pada articulation rdiocarpalis, articulation atlantooccipitalis.

-          Articulatio sellaris (saddle joint), pada articulatio carpometacarpalis I.

  1. Sendi dengan tiga axis triaxial

Sendi ini gerakannya mencakup fleksi, ekstensi, abductio, adductio, circumductio dan rotatio.

-          Articulatio globoidea, pada articulatio humeri.

-          Articulatio spheroidea, pada articulatio coxae.

 

Tulang rawan sendi normal merupakan jaringan ikat khusus avaskuler dan tidak memiliki jaringan saraf yang melapisi permukaan tulang dari sendi diartrodial. Tulang rawan sendi berperan sebagai bantalan yang menerima (meredam) beban benturan yang terjadi selama gerakan sendi normal dan meneruskannya ke tulang di bawah sendi.

 

  1. B.     Osteoarthritis (OA)

Osteoarthritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Osteoartrosis disebut primer, bila tak diketahui penyebabnya; dan disebut sekunder bila diketahui penyebabnya,misalnya akibat artritis rematoid, infeksi, gout, pseudogout dan sebagainya. Penyakit ini bersifat progresif lambat, umumnya terjadi pada usia lanjut, walaupun usia bukan satu-satunya faktor risiko. Osteoartrosis menyerang terutama sendi tangan  atau sendi penyokong berat badan termasuk sendi lutut. ( Harry Isbagio, 1995)

Gejala

Gejala osteoarthritis timbul secara berperingkat. Pada awalnya perubahan seperti ngilu dan kekejangan pada sendi akan berlaku. Sendi-sendi pada jari tangan, pangkal ibu jari, leher, punggung sebelah bawah, jari kaki yang besar, pinggul dan lutut adalah bahagian yang sering menghidap osteoartritis. Ngilu dikategorikan ringan, sederhana, atau berat sehingga dapat mengganggu aktiviti seharian. Apabila penyakit ini berlanjutan semakin susah untuk mengerakkan sendi sehingga pada akhirnya akan menyebabkan ssendi menjadi bengkok.

Pertumbuhan baru pada tulang rawan dan jaringan lainya akan menyebabkan pembesaran sendi, dan tulang rawan yang permukaanya kasar akan menyebabkan timbulnya bunyi gemeretak apabila sendi digerakkan. Pada beberapa sendi, ligamen (yang mengelilingi dan menyokong sendi) akan teregang sehingga sendi menjadi tidak stabil. Menyentuh atau menggerakkan sendi tersebut selalunya akan menyebabkan rasa ngilu yang teramat sangat.

Osteoartritis yang terjadi pada sendi-sendi di leher atau punggung akan menimbulkan gejala tidak mempunyai deria rasa, kebas, ngilu dan lengan yang lemah, jika terdapat pertumbuhan tulang yang berlebihan,ia akan menekan saraf-saraf di sekitarnya. Kadang-kadang adanya terjadi penekanan pada pembuluh darah yang menuju ke otak di bahagian belakang, sehingga menyebabkan gangguan penglihatan, vertigo,rasa mual dan muntah. Pertumbuhan tulang yang berlebihan di sekitar leher juga akan menganggu proses penelanan.

Faktor Risiko

  1. Umur

Osteoarthritis hampir tidak pernah pada anak-anak, jarang pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun.

  1. Jenis Kelamin

Secara keseluruhan, di bawah 45 tahun frekuensi OA kurang lebih sama pada pria dan wanita, tetapi di atas 50 tahun (post menopause) frekuensi OA lebih banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis OA.

  1. Genetik

Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada OA tertentu.

  1. Kegemukan dan Penyakit Metabolik
  2. Cedera sendi, Pekerjaan dan Olahraga

Aktivitas-aktivitas tertentu dapat menjadi predisposisi OA cedera traumatik (misalnya robeknya meniscus, ketidakstabilan ligamen) yang dapat mengenai sendi.

  1. Kelainan pertumbuhan

Etiologi

  1. Adanya peradangan kronis pada persendian

Ditandai dengan pembengkakan pada jari-jari tangan, siku, dan lutut. Biasanya daereah yang mengalami pembengkakan, berwarna kemerah-merahan.

  1. Pernah mengalami trauma dan radang pada sendi.
  2. Karena faktor usia

Kebanyakan orang yang terkena osteoarthritis adalah orang dengan usia diatas 50 tahun.

  1. Keturunan

Ada beberapa orang yang mengalami osteoarthritis karena faktor keturunan.

  1. Berat badan yang berlebihan

Berat badan yang berlebihan, dapat memberatkan sendi dalam menopang tubuh.

  1. Stres pada sendi

Biasanya stres pada sendi ini terjadi pada olahragawan.

  1. Neurophaty perifer

Diagnosis

Diagnosis pada osteoartritis dapatditentukan berdasarkan gejala penyakit dan dengan melakukan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan lanjutan yang dimaksudkan ialah :

1. Roentgen tulang

Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kerosakan atau perubahan yang berlaku pada tulang rawan atau tulang yang menunjukkan adanya osteoartritis.

2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI dapat mengesan perubahan yang terjadi pada tulang rawan dan dapat memberi impresi yang lebih baik daripada pemeriksaan roentgen tulang.

3. Aspirasi sendi (arthrocentesis)

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sedikit cecair yang terdapat pada sendi untuk diperiksa di makmal berhubungan dengan adanya perubahan pada sendi.

 

 

 

Gambaran radiologi osteoarthritis

 

Penatalaksanaan

Pilihan rawatan adalah mengawal berat badan, perlindungan sendi, fisio terapi, dan ubat-ubatan. Apabila semua pilihan terapi tersebut tidak memberikan apa-apa hasil, pesait akan dipertimbangkan untuk melakukan pembedahan pada sendi tersebut.

Glucosamine dan Chondroitin Sulfate (1,5)Glucosamine merupakan satu gula amino yang berfungsi untuk membentuk dan membaik pulih kartilage. Chondroitin sulfate merupakan sebahagian daripada molekul protein yang besar (proteoglycan) yang memberikan keelastikan pada kartilage.Kajian menunjukkan bahawa pesakit osteoartritis yang mengambil suplemen glucosamine dan chondroitin sulfate mengalami pengurangan rasa ngilu pada intensiti yang sama seperti apabila seseorang mengambil ubat NSAIDS (Anti Inflamasi Non-Steroid). Selain itu kedua-dua zat tersebut juga dipercayai dapat memperlambatkan kerosakan kartilage pada pesakit osteoartritis.

 

  1. C.    Osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah (Aru Sudoyo, 2007).

Etiologi

  1. Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.

Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.

Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

  1. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru.

Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.

  1. Osteoporosis sekunder dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.

Penyakit osteoporosis bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan).

Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis.

  1. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui.

Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

 

Faktor Risiko Osteoporosis

  1. Wanita
    Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.
  2. Usia
    Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.
  3. Ras/Suku
    Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.
  4. Keturunan Penderita osteoporosis

Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.

  1. Gaya Hidup Kurang Baik
  • Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.
  • Minuman berkafein dan beralkohol

Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).

  • Malas Olahraga

Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.

  • Merokok
    Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
  • Kurang Kalsium

Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.

  1. Mengkonsumsi Obat

Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.

  1. Kurus dan Mungil

Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna.

 

Penatalaksanaan

Terapi dan pengobatan osteoporosis bertujuan untuk meningkatkan kepadatan tulang untuk mengurangi retak tambahan dan mengontrol rasa sakit. Untuk mempertahankan kepadatan tulang, tubuh memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya yang memadai, dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan testosteron pada pria). Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik. Penjepit punggung mungkin penting untuk mendukung vertebra yang lemah dan operasi dapat memperbaiki bweberapa keretakan. Pengobatan hormonal dan flouride dapat membantu. Penyakit osteoporosis yang disebabkan oleh gangguan lain dapat dicegah melalui pengobatan yang efektif pada gangguan dasarnya, seperti terapi kortikosteroid.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas dan gejala-gejala yang dialami oleh pasien, diduga pasien menderita osteoarthritis (OA) beserta osteoporosis. Hal ini dapat dilihat dari hasil pemeriksaan fisik dan foto rontgen yang dilakukan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda radang dan keterbatasan ROM pada lutut. Selanjutnya juga dilakukan pemeriksaan foto rontgen, hasilnya tampak osteofit yang mengarah pada OA, lalu pada pemeriksaan bone marrow density didapatkan hasil osteoporosis dengan hasil CRP meningkat.

Sebelum membahas tentang OA dan osteoporosis, pembahasan mengenai tulang rawan sendi diperlukan terlebih dahulu. Tulang rawan sendi normal merupakan jaringan ikat khusus avaskuler dan tidak memiliki jaringan saraf yang melapisi permukaan tulang dari sendi diartrodial. Tulang rawan sendi berperan sebagai bantalan yang menerima (meredam) beban benturan yang terjadi selama gerakan sendi normal dan meneruskannya ke tulang di bawah sendi. Tulang rawan sendi terletak pada komposisi dan struktur matriks ekstraseluler yang terutama mengandung agregat proteoglikan dalam konsentrasi tinggi dalam sebuah ikatan yang erat dengan serabut dan sejumlah besar air. Pelumasan oleh cairan sendi memungkinkan berkurangnya gesekan antara permukaan tulang rawan sendi artikuler pada pergerakan (Aru Sudoyo, 2007).

Osteoarthritis adalah penyakit sendi degeneratif non inflamasi yang terutama terjadi pada orang tua, ditandai dengan degenarasi tulang rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepinya dan perubahan pada membran sinovial (Dorland, 2007). OA merupakan penyakit gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago. Pada OA juga terjadi peningkatan degradasi kolagen yang akan mengubah keseimbangan metabolisme rawan sendi, kelebihan produk hasil degradasi matriks rawan sendi ini cenderung berakumulasi di sendi dan menghambat fungsi rawan sendi serta mengawali suatu respon imun yang menyebabkan inflamasi sendi. Sedangkan osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Faktor risiko OA dan osteoporosis hampir sama, seperti yang telah dijelaskan pada tinjauan pustaka.

Faktor risiko dari OA dan osteoporosis antara lain usia, pekerjaan, jenis kelamin, dan lainnya. Pada skenario disebutkan seorang wanita berumur 60 tahun berkerja sebagai kuli gendong yang mengeluh nyeri pada sendi lutut. Berdasarkan tinjauan pustaka, OA dan osteoporosis yang terjadi pada pasien tersebut berisiko karena jenis kelamin (wanita), usia (60 tahun), dan pekerjaan (kuli gendong). Wanita yang telah lanjut usia atau di atas 45 tahun telah mengalami menopause sehingga terjadi penurunan estrogen. Estrogen merupakan regulator pertumbuhan dan homeostasis tulang yang penting. Estrogen berpengaruh pada osteoblas dan sel endotel. Apabila terjadi penurunan estrogen maka TGF-ß yang dihasilkan osteoblas dan NO yang dihasilan sel endotel akan menurun juga sehingga menyebabkan diferensiasi dan maturasi osteoklas meningkat. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan resorpsi tulang hingga menyebabkan osteoporosis. Estrogen juga berpengaruh pada bone marrow stroma cell dan sel mononuklear yang dapat menghasilkan HIL-1, TNF-α, IL-6 dan M-CSF sehingga dapat terjadi osteoarhtritis karena mediator inflamasi ini. Tidak hanya itu, estrogen juga berpengaruh pada absorbsi kalsium dan reabsorbsi kalsium di ginjal sehingga terjadi hipokalsemia. Keadaan hipokalsemia ini menyebabkan mekanisme umpan balik sehingga meningkatkan hormon paratiroid. Peningkatan hormon paratiroid ini juga dapat meningkatkan resorpsi tulang sehingga dapat mengakibatkan OA dan osteoporosis.

Sendi lutut adalah articulatio genu yang mempunyai tipe sendi ginglimus. Articulatio genu ini menahan hampir seluruh berat tubuh pada saat berdiri. Bagi pasien pada skenario yang bekerja sebagai kuli gendong, hal ini cukup beralasan untuk menjadikannya faktor risiko. Beban yang cukup berat secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan struktur proteoglikan kartilago. Keadaan ini dapat menyebabkan diorganisasi kondrosit dan erosi sebagian kondrosit. Hal ini mengakibatkan articulatio genu mengapung. Lalu terbentuk kista dalam tulang. Pada proses remodelling terjadi proliferasi tulang di sendi (osteofit) yang dapat menyebabkan trauma membran sinovium. Trauma ini lalu menunjukan tanda-tanda peradangan.

Obat bebas yang dikonsumsi pasien juga dapat berpengaruh. Biasanya obat bebas yang dijual adalah kortikosteroid karena harganya murah dan efeknya sebagai antiinflamasi. Kortikosteroid mempunyai kerja sebagai berikut yaitu menurunkan absorpsi di GI tract, menurunkan produksi estrogen dan testosteron, menurunkan massa otot dan menurunkan aktivitas osteoblas. Oleh karena itu, kortikosteroid dapat menyebabkan osteoporosis.

Peningkatan CRP (C-reactive protein) menunjukkan adanya inflamasi. Karena CRP berguna untuk mengaktivasi jalur komplemen pada proses inflamasi. Tetapi inflamasi pada skenario bukan kronik karena reumatoid factor negatif. Reumatoid factor itu sendiri untuk menandakan adanya infeksi kronik sendi.

Diagnosis pada osteoartritis dapatditentukan berdasarkan gejala penyakit dan dengan melakukan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan lanjutan yang dimaksudkan ialah :

1. Roentgen tulang

Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kerosakan atau perubahan yang berlaku pada tulang rawan atau tulang yang menunjukkan adanya osteoartritis.

2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI dapat mengesan perubahan yang terjadi pada tulang rawan dan dapat memberi impresi yang lebih baik daripada pemeriksaan roentgen tulang.

3. Aspirasi sendi (arthrocentesis)

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sedikit cecair yang terdapat pada sendi untuk diperiksa di makmal berhubungan dengan adanya perubahan pada sendi.

Penatalaksanaan dapat diberikan NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drugs), glukosaminoglikan dan kondroitin sulfat. NSAID mempunyai efek analgetik dan anti-inflamasi sehingga dapat mengurangi beban pasien. Glukosaminogen dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam proses degradasi tulang rawan, sedangkan kondroitin sulfat adalah bagian dari proteoglikan yang terdapat pada tulang rawan sendi. Bila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari maka terapi bedah perlu dilakukan.

Rehabilitasi medik (RM) diperlukan pada OA dan osteoporosis untuk meningkatkan / mempertahankan luas gerak sendi, meningkatkan / memulihkan kekuatan otot – otot sendi, meningkatkan / memulihkan stabilitas sendi lutut, memulihkan pola gait yang abnormal, dan endurance Aerobik. RM pada OA dapat diberikan terapi dingin untuk fase akut dan terapi panas untuk fase kronik dan juga RM menggerakkan sendi-sendi secara teratur tiap harinya. Hal ini dapat dilakukan dengan berjalan, berenang, dan bersepeda.

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Seorang wanita berumur 60 tahun bekerja sebagai kuli gendong didiagnosis menderita osteoarthritis dan osteoporosis fase akut.
  2. Penyebab dari OA dan osteoporosis pada wanita tersebut adalah jenis kelamin, usia dan pekerjaan dan obat bebas yang dikonsumsinya.
  3. Osteoarthritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Sedangkan osteoporosis adalah Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
  4. Diagnosis dapat ditegakkan dengan foto rontgen yang menunjukkan adanya osteofit, sklerosis, permukaan sendi tidak teratur, dll.
  5. Penatalaksanaan yang dapat diberikan adalah NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drugs), glukosaminoglikan dan kondroitin sulfat.
  6. Rehabilitasi medik yang dapat diberikan adalah dengan terapi dingin (fase akut), terapi panas (fase kronik), menggerakkan sendi-sendi secara teratur tiap harinya. Hal ini dapat dilakukan dengan berjalan, berenang, dan bersepeda.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dorland, W.A Newman.  2006.  Kamus Kedokteran Dorland, 29th ed.  Jakarta:  EGC.

Guyton, Arthur C. dan John E. Hall.  1997.  Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.  Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif, dkk.  2000.  Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3.  Jakarta: Media Aesculapius FKUI.

Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC.

Sudoyo, Aru W. dkk.  2006.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN INDIVIDU

 

BLOK  XI  SISTEM MUSKULOSKELETAL

 

SKENARIO 2

 

”Pengaruh Usia, Hormon Estrogen, Pekerjaan dan Kortikosteroid pada Osteoathritis dan Osteoporosis”

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Tiur Estika Situmorang

G 0007023

Kelompok 6

 

Tutor          :  dr. P. Murdani K., MHPEd

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2008

Diagnosis banding TBC

Didapatkan kasus seorang laki-laki muda datang ke IGD dengan sesak napas mendadak. Pasien ini dalam pengobatan rutin di Puskesmas baru berjalan 1 bulan. Apa yang terjadi dengan pasien tersebut?
Diagnosis banding yang dapat diambil dari pasien ini yaitu tuberculosis, hemothorax, pneumonia, efusi pleura, asma akut dan pneumothorax. Dari kasus tersebut harus dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dinding dada dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis.
Anamnesis yang perlu ditanyakan antara lain, yaitu:
– Onset sesak napas
– Frekuensi sesak napas
– Intensitas sesak napas
– Faktor yang mempengaruhi sesak napas (memperberat/memperingan)
– Riwayat penyakit dahulu
– Riwayat penyakit sekarang
– Obat-obatan yang telah diberikan
– Keluhan yang menyertai
Setelah dilakukan anamnesis, lalu dilakukan pemeriksaan fisik yang terdiri dari KU/VS dan pemeriksaan fisik dinding dada. Pada pemeriksaan vital sign kemungkinan ditemukan respiration rate dan heart rate yang meningkat, sedangkan blood pressure dan suhu kemungkinan bisa ditemukan normal atau meningkat maupun menurun. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik dinding dada anterior dan posterior yang terdiri dari inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pada inspeksi kemungkinan ditemukan retraksi dinding dada, pengembangan dinding dada tertingal. Untuk pemeriksaan selanjutnya agar lebih mudah, perhatikan tabel berikut :

Pmx fisik / DD

TB

Hemothorax

Pneumonia

Efusi pleura

Asma akut

Pneumothorax

Fremitus taktil

Menurun

Menurun

Meningkat

menurun

Menurun

Meningkat

Perkusi

Sonor

Redup

Redup

redup

Sonor sampai hipersonor

hipersonor

Auskultasi

SDV menurun,amforik, ronki

SDV menurun, ST (-)

SDV menurun,ronki basah kasar

SDV menurun, pleural friction rub

SDV normal / menurun, wheezing

SDV menurun

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah foto thorax, pemeriksaan kultur sputum, lab darah rutin, analisis cairan pleura, analisi gas darah, dan proof pungsi. Sedangkan penatalaksanaan yang dapat diberikan secara segera adalah oksigenasi, beri bronkodilator jika ditemukan bronkokonstriksi dan WSD / pungsi efusi (PDPI, 2006)
Dikarenakan pasien mendapat pengobatan rutin selama 1 bulan dari Puskesmas, kemungkinan pasien TB, tetapi harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Komplikasi dari TB yang bisa ditemukan yaitu heomptysis, penyebaran per kontinuitatum/bronkogen/hematogen, TB laring, pleuritis eksudatif, abses paru, pneumothorax dan lainnya (Danusantoso, 2000).
Pneumothorax pada kasus TB dapat disebabkan karena adanya proses TB di paru bagian perifer, baik itu masih aktif (berupa infiltrat) ataupun berupa jaringan parut (fibrotic scar) merupakan tempat-tempat rawan (locus minoris resistentiae) dimana pleura setempat mudah robek. Infiltrat juga akan berlanjut dengan nekrosis dan perlunakan (sebelum menjadi kaverne), sehingga menyebabkan pleura rusak (tidak elastis lagi) dan dengan demikian mudah robek pada saat paru mengalam ekspansi (Danusantoso, 2000).

Daftar pustaka:
Danusantoso. 2000. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Hipokrates.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 2006. Tuberculosis. Jakarta.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.