Live your life with smile

Ada pasien dengan rhabdomiosarcoma, salah satu jenis kanker, yang kemarin saya rawat lukanya. Sembari ganti perban, saya ngobrol, niat hati ingin menyemangati dengan bilang “Tetep semangat ya bu, hati yang gembira adalah obat. ” Eh malah saya yang jadi lebih semangat. Ibu itu lalu bernyanyi dan berkata “Iya dok, kalo kita yakin pasti bisa sembuh. Saya bersyukur bisa ada hingga sekarang.” Saya menatap ibu itu yang telah kurus dan rambut yang rontok akibat kemo, saya tersenyum dan diingatkan betapa bersyukurnya saya bisa ada hingga saat ini.

Ga perlu nunggu sakit dulu kan untuk bersyukur? Kita berhak bahagia.

Iklan

200614

Lagi, dalam ruang berbeda, tapi rasa yang sama.
Lagi, hati bergejolak, mulut tak berucap.
Lagi, hanya awan saksinya, hujan pun tuntutannya.

200614

Teruntuk Tarida – Samuel

Tadinya pengen bikin video terus ditayangin di resepsi lo. Tapi ternyata bidang gw bukan di situ (bilang aja ga bisa, haha), akhirnya gw tulis di blog aja ya.

Berawal dari kelompok tutorial PMDK, kita bareng, cil. Pas ospek lo di mana ya? Haha. Katanya sih gw yang jutek, makanya lo sama monce ga deket-deket gw, haha.

Lalu persahabatan kita dimulai.
Mulai dari tawa, ejek-ejekan, sedih, bahkan nangis 6 jam di Solo Grand Mall pun pernah gw temenin, haha. Sayangnya waktu itu ga difoto ya.

Hingga akhirnya lo menjalin cinta dengan Samuel. Kita juga makin sering main bareng. Apalagi bareng sama Monce, sering dibilang geng batak. Untung ada Sunny, seorang cina yang ga mau makan babi.

Liburan demi liburan kita lalui bersama.
Makan bersama, ngebabi bersama, apapun yang penting senang.

Tahun 2012, kita dapet kesempatan ke Eropa. Sayang si Sunny ga ikut. Gw sama Monce ke Vienna, lo sama Samuel ke German. Bersama-sama teman dari UNS yang lain, kita menjelajah Eropa. Cuma 2 minggu, anak kinyis-kinyis mencoba menaklukkan Eropa, haha.

Kita berempat bawa koper gede-gede dan berat tentunya. Mulai dari hampir terlambat kereta karena beli oleh-oleh di Vatican, topengnya Monce ketinggalan, Monce nangis karena kecapean ngejar kereta, gw yang berusaha ngelobi kondektur supaya keretanya ga jalan dulu sambil nungguin kalian lari-lari (tapi gagal), akhirnya Samuel diri di pintu kereta supaya kereta ga bisa jalan, itu semua pernah kita lalui, haha.
Oh iya, tidur 6 jam di Stasiun Milan sambil nunggu keretanya berikutnya karena menghemat biaya hostel, kedinginan di Swiss, nyobain berbagai jenis beer, dan kekonyolan kita lainnya.

Lalu balik ke Indonesia, menyelesaikan coass dan berjibaku dengan UKDI. Oh iya, si Sunny lulus duluan menjadi dr. Sunny. Sedih juga ga bisa main bareng lagi, tapi inilah tujuan kita sebelum masuk UNS. Sebelum Sunny internship, kita pun main ke Bandung, senang-senang. Ya itulah hobi kita, jalan-jalan dan makan-makan. Haha.

Sebelum menghadapi UKDI, kita pun try out di Jogja. Makan babi di bang Ucok, terus kekenyangan dan alhasil ngantuk pas try out, haha.

Pas UKDI nginep di Sheraton, didoain bokap gw, dan kalian terbangun gara-gara gw sama bokap gw nyanyi sebelum doa.

UKDI pun lulus, dan puji Tuhan kita telah disumpah jadi dokter.

Sedih harus berpisah, karena kita internship beda tempat, tapi lo, Samuel, Monce tetep bareng di Brebes. Gw di Pekalongan dan Sunny di Semarang.

Tapi walaupun beda tempat, ga menyurutkan suasana untuk tetep main bareng.

Akhirnya, tanggal 25 Januari 2014, kalian mengikrarkan janji sebagai suami-istri. Congrats! Doain kami menyusul. Bahagia tak terkira melihat kalian bersama. Semakin dewasa, membangun keluarga dalam Kristus, punya anak lucu-lucu. Dan tetep main bareng ya kita.
Love you.

Nb: seharusnya ini dipost setaun lalu.

24 tahun

Puji Syukur sudah mencapai umur 24 tahun. Tuhan masih mempercayakan kehidupan ini kepada saya.
Ketika flash back kehidupan saya, seru juga, sedih tertawa, tapi yang terpenting dari itu semua, penyertaan Tuhan yang selalu membuat saya bersyukur
Bersyukur atas kasih dari keluarga, ada bapake, mama, kakak, abang, adik, ipar dan keluarga besar tentunya. Bagaimana mereka mengasihi saya dengan caranya sendiri, ada bapake dan mama yang selalu menelepon, ada kakak abang adik yang selalu bilang anak angkat, haha.
Tak hanya itu, kasih dari para sahabat dan teman-teman, monce, tarida, sam, sunny, olin, choi, venny, yang selalu membuat tawa saya semakin lebar. Dan pada ulang tahun saya ini, Tarida-Samuel martupol.
Bersyukur.
Dapat merasakan cinta, yang walaupun sudah tidak bersama, tapi menjadikan pembelajaran untuk saya lebih dewasa.
Dapat merasakan kasih dari seseorang yang sudah pasti tidak mungkin bersama, tapi ia tetap mengasihi saya, dan malah jadi teman bisnis, temen travelling ke gunung, haha.
Teman naik gunung, yang selalu siap sedia memuaskan hasrat saya untuk menikmati ciptaan Tuhan dari atas sana. Ada fenda, christ, tya, faqih, dewok, tito, monce (kayak anak kembar, bareng terus sama gw) dan lainnya.
Sekolah di SD 04, yang sampai sekarang teman2 masih berhubungan. SMP 234, dengan geng berjumlah 9 orang, ada laras, nova, stepfani, lena, maria, linca, rina, sarah, haha.
SMA 8, banyak kenangannya. Punya band cewe semua, The Angels, bareng kenny, bila, tiara, bunda. Jadi ketua Art 40, basket bahkan sampe libur karena kebanjiran.
Sekolah di FK UNS, yang sempet bikin puyeng, tapi untung ada PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) dan Cadavers, tim basket yang membuat saya happy. Dan puji Tuhan, tahun kemarin sudah lulus menjadi dokter, dapat merasakan program pertukaran pelajar, keliling Eropa. Woi Mon, Sam, Tar ayok keliling Eropa lagi, haha.
Dan sekarang menjadi dokter internship di Pekalongan bersama Adit, Dayu, Mitha, Uci dan teman dari Unisula.

Tahun ini internship selesai pada bulan Mei dan saya siap untuk rencana Tuhan selanjutnya. Doakan profesi saya, agar bisa mengemban dengan baik amanah ini.

Terima kasih

Indomaret Stasiun Jatinegara, 11 Januari 03.30 WIB, sambil nunggu dijemput Bapake.

image

Ini di lingkungan ku, bagaimana dengan mu?

Gw jarang banget nulis tentang lintas agama, tapi entah kenapa gw pengen banget nulis tentang itu sekarang. Oh iya, tulisan ini gw pikirin pas gw lagi ngepel lho, hehe.
Gw pengen share aja tentang kehidupan lintas agama di lingkungan gw, baik itu di lingkungan rumah, kerja (dulu sekolah dan kuliah) maupun pertemanan. Ya gw hidup dikelilingi dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan beberapa yg Buddha, hmm ada yang atheis juga sih. Jujur saja, gw ga pernah ngerasain konflik lintas agama seperti yang sering ada di berita ataupun social media. Dan gw bersyukur hidup di lingkungan yang saling menghargai keyakinan masing-masing.
Okeh gw akan mencontohkannya.
1. Hei, saling menghormati itu ga harus mengucapkan “Selamat hari raya”. Karena ada keyakinan yang ga mengizinkan mereka mengucapkan itu. Haruskah sakit hati? Di lingkungan gw ada beberapa teman yang mengucapkan dan ada yang ga. Tapi bagi gw ga masalah, itu keyakinan mereka. Bagi gw, saling menghormati cukup dengan sikap mengizinkan gw untuk beribadah pada hari raya tersebut. Menggantikan gw jaga di RS sehingga gw bisa ibadah, itu cukup. Tidak menutup rumah ibadah, itu cukup. Bahkan di lingkungan rumah gw, yang berhari raya akan memberikan makanan kepada kami, dan kami pun membalasnya ketika kami berhari raya.
Oh iya contoh kecil di lingkungan rumah gw jg, ketika yang Hindu merayakan Nyepi, kami pun tidak mengadakan acara yang berisik, atau memanggil-manggil mereka sehingga mereka harus keluar.
2. Saling menghargai ditunjukkan dengan menghormati cara ibadahnya. Gereja gw terletak di pemukiman padat, untuk itu pendeta gw sering mengingatkan supaya sound musik gereja ketika jam 17.30-18.30 supaya dikecilkan untuk menghormati mereka yang solat mahgrib. Dan begitupun penduduk sana tidak berkeberatan, ketika sound musik gereja pada hari minggu agak besar. Atau ketika gw jalan-jalan sama temen-temen, dan ada yang izin solat, ya persilahkanlah mereka. Begitupun ketika hari minggu gw gereja atau hari ketika ada persekutuan, temen-temen gw pun mempersilahkan, bukan jadinya mengucilkan “Repot ah ajak si A, solatnya harus tepat waktu.”  Atau “Klo pergi hari minggu, ga usah ajak si B, pasti alesannya banyak, mau gereja lah, persekutuan lah.” Ya cukup saling mengerti cara beribadah masing-masing dan tidak mempersoalkannya, pasti indah.
3. Apakah kita harus sepaham dan sekeyakinan? Maunya sih gitu, tapi ga bisa bung. Saling menghormati aja lah keyakinan masing-masing, ga usah merasa paling benar dan menyalahkan yang lain. Gw pernah kok duduk berdampingan dengan temen gw, gw cerita tentang agama gw, bagaimana Tuhan Yesus menyelamatkan hidup gw. Begitupun temen gw, dia menceritakan ajaran Nabi Muhammad. Tapi kami saling menghargai, tidak memaksakan keyakinan kami pada yang lain. Dan setelah itu, kami tetap berteman sampe sekarang. Indah bukan? Masalah keyakinan, biar pribadi itu sendiri yang menentukan. Begitu juga dengan teman gw yang Atheis, ya hak mereka seperti itu, gw cukup menceritakan kehidupan gw tanpa memaksakan harus sepaham dan sekeyakinan.
4. Konflik yang terjadi di luar lingkungan kita, jangan disamakan dengan di lingkungan kita. Maksud gw gini, klo ada yang berantem antar agama tapi bukan di lingkungan kita, janganlah kita jadi membenci agama yang berada di lingkungan kita. Konflik itu kan bisa beda-beda penyebabnya, klo ternyata kebetulan konflik pribadi tapi ternyata orangnya beda agama, bisa saja orang luar melihatnya sebagai konflik agama, padahal bukan.

Ya akhir kata, hidup kita cuma sebentar, lakukan yang terbaik buat dirimu, keluargamu, bangsamu dan Tuhan mu. Urusan agama dan keyakinan itu masalah pribadi, jangan menganggap keyakinan yang berbeda dengan mu itu salah, cukup dengan meyakini keyakinan mu itu benar saja. Mengerti kan perbedaannya?
Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 bagi teman yang merayakan.
Indonesia masih punya harapan 🙂

image

dr. Lo Siauw Ging, kesederhanaan dan ketulusan yang patut diteladani!

Dr. Lo, begitu beliau akrab disapa. Awalnya gw denger tentang beliau di acara PMK (semester 2) lalu karena terkesan dengan beliau, gw pun googling tentang beliau. Wow (dalam hati) pas baca postingan-postingan yang ada. Dan tersimpan suatu hasrat harus menemui beliau. Ya iyalah harus, beliau seorang dokter yang diteladani di Solo dan tempat tinggalnya deket dengan gw, masa gw ga bisa belajar langsung dari beliau.
Setelah 3 tahun berlalu, akhirnya tanggal 29  Des kemarin, gw bisa ngobrol-ngobrol sama beliau. Bermula gw mencari alamat dari internet, lalu akhirnya gw datengin tuh rumah beliau yang berada di Jagalan No. 27 Surakarta. Setelah sampai di depan rumah beliau, gw kok malah jadi takut (soalnya dr. Lo itu terkenal galak tapi baik katanya), apalagi terlihat mobil yang mau keluar saat itu, takutnya beliau sibuk. Apalagi gw udah tau jadwal praktik beliau, pukul 6-8 di rumah, pukul 9-11 di RS Kasih Ibu, pukul 16-20 di rumah. Dan saat itu gw dateng pukul 8.30 terlihat mobil yang keluar. Akhirnya gw telepon lah rumah beliau terlebih dahulu (tentu saja dapet nomernya dari internet). Dan ternyata yang mengangkat langsung dr. Lo, benar saja, beliau sibuk saat itu dan meminta untuk datang sore aja pukul 16.
Gw pun menelpon temen gw Eta untuk menemani. Pukul 16.15 kami udah di sana, ada sekitar 10 pasien. Kami pun menunggu hingga tidak ada pasien, karena tidak mau mengganggu yang lebih membutuhkan. Sempat ngobrol-ngobrol dengan ibu tukang bakso langganan gw yang ternyata berobat di situ juga. Beliau mengatakan berobat di dr. Lo sembuh, tapi galak, ga bayar juga, cukup membayar obat yang di resep saja. Akhirnya pukul 17.10 pasien tidak ada (bukan tidak sih, tapi lagi tidak ada), kami pun masuk.

image

dr. Lo Siauw Ging, MARS

Dr. Lo mengenakan baju putih dengan stetoskop dikalungkan. Kami pun dipersilahkan masuk dan menunggu sebentar. Beliau keluar ruangan, gw rasa beliau istirahat sebentar (minum mungkin), ya dengan umur 78 tahun, gw bisa membayangkan letihnya setelah memeriksa pasien selama 1 jam. Kira-kira 10 menit kemudian, pria kelahiran Magelang, 16 Agustus 1934 ini masuk ke ruangan kembali. Lalu kami pun berkenalan dan beliau mengatakan sambil tersenyum, “Ada apa? Apalagi yang mau ditulis tentang saya? Bukankah sudah ada di kompasiana? Saya ini tidak istimewa, saya orang biasa, kalian pun bisa menjadi seperti saya.” Gw pun tersenyum dan berkata ” Iya dok, kami mau denger pengalaman dokter.” Lalu dokter yang terkenal dengan kebiasaannya tidak pernah menarik tarif pada pasien sedari awal beliau menjadi dokter, bahkan membayari obat sampai biaya rawat inap pada pasien ini pun memulai ceritanya.
Beliau menceritakan bahwa dulu beliau sekolah kedokteran gratis, karena dulu dokter itu sedikit, bahkan sampe dipaksa-paksa. Jadi beliau tidak ada investasi dalam masa sekolahnya, sehingga buat apa beliau mencari keuntungan. Beliau juga melanjutkan bahwa dulu beliau juga ditawarkan untuk sekolah spesialis, tapi beliau tidak menerimanya karena beliau lebih memilih untuk terjun di masyarakat ( dari situ gw udah ngeliat niat tulusnya menjadi dokter). Lalu beliau menceritakan pengalaman beliau ketika pratik di daerah Gunung Kidul Yogyakarta. Beliau bercerita bahwa pernah menderita Leptospirosis, dikarenakan kemungkinan karena air minum yang diminumnya telah terkontaminasi, pasalnya air di daerah tersebut diambil dari telaga dimana orang bahkan hewan pun minum dari situ. Beliau dirawat selama 3 bulan di RS, beliau mengatakan udah mau mati rasanya saat itu, apalagi saat itu angka kematian dari Leptospirosis sampai 50%. Tetapi ternyata beliau diperbolehkan sembuh dan beliau sangat beryukur, untuk itu untuk membalas kasih Tuhan, ya beliau melakukannya lewat praktik kedokterannya.
Setelah itu beliau melanjutkan lagi ceritanya yang sangat bersyukur mempunyai istri seperti istrinya. Lalu beliau menunjukkan foto istrinya yang disimpan di dalam buku catatannya, cantik. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak mempunyai anak, hidup hanya berdua, sederhana saja, dan bersyukur dengan kesederhanaan itu istrinya tidak pernah menuntut apa-apa.
Pria yang sederhana itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah map tebal. “Ini kalau kalian mau lihat.”, katanya. Ternyata beliau menunjukkan tagihan-tagihan tiap bulan yang harus beliau bayar untuk pasien tidak mampu. Ada tagihan dari apotek langganannya, jadi pasien yang tidak mampu disuru menebus obat dari apotek tersebut dengan gratis. Lalu ada juga tagihan dari RS tempat beliau berkerja, pasien yang tidak mampu, baik itu rawat jalan atau pun rawat inap dibiayainya. Jumlah tagihannya pun tidak sedikit, berkisar 4-6 juta, kalau digabungkan tagihan dari RS dan apotek, gw rasa mencapai 10 juta.
Dengan polosnya gw bertanya ” Lalu untuk membiayai itu semua uangnya dari mana?” Beliau melanjutkan bahwa beliau masih punya gaji dan ada pasien bila mampu pasti membayar (walaupun beliau tidak menetapkan tarif). “Lagian saya ini sudah tua. Berapa sih kebutuhan hidup saya berdua dengan istri? Tidak banyak lah. Orang tua juga sudah tidak ada, jadi saya tidak ada tanggungan.” Yup kesederhanaan beliau untuk membantu orang lain membuat gw terkagum.
Lalu beliau menceritakan tentang masa coassnya. Dulu beliau saat coass tinggal di RS. Beliau berkata selain hemat, bisa belajar banyak dari pasien,dengan melihat pasien secara langsung dan sering, banyak pelajaran yang bisa diambil. Beliau juga bercerita dulu itu tidak ada detailer seperti sekarang, semua obat dari pemerintah. Hmm hahaha detailer.
Akhir kata beliau berpesan pada kami, “Nanti kalau kalian jadi dokter, kalian pun bisa seperti saya. Rasanya bisa menolong orang itu seneng, apalagi bisa mendengar ucapan terima kasih dari pasien itu rasanya sudah cukup bagi saya. Tapi kalian harus berpikir juga, bahwa biaya sekolah kalian ini kan mahal, kalian mempunyai investasi, maka ya kembalikan itu dulu pada orang tua kalian. Kalau mau menolong orang ya liat dulu diri kalian, keluarga barulah orang lain.” Gw menangkap bahwa cukupkan untuk diri sendiri dan keluarga dulu, baru ke orang lain. Inget lho, cukup bukan lebih.
Saat ingin berpamitan, beliau menanyakan “Ayo apalagi yang dibutuhkan? Tanya saja.” Kami pun menggeleng. Beliau melanjutkan “Apa kalian butuh uang?” Langsung saja kami menggeleng lebih keras. “Mungkin sekarang kalian tidak butuh, tapi nanti untuk sekolah spesialis biayany banyak. Kalau kalian butuh bantuan, ke sini saja.” Rasanya pengen nangis saat itu, kok ada orang baek banget, tulus lagi. Beliau juga meminta nomer hp kami, kalau-kalau nanti beliau ingin menghubungi. Kami pun berpamitan, tidak lupa berfoto bersama.
Bagi teman-teman yang mau jadi dokter, yuk kita teladani sikap dr. Lo, tulus dalam menolong orang, apalagi lahan pekerjaan kita ini gampang sekali dipakai untuk menolong. Dan bagi teman-teman yang bukan dokter, yuk menolong orang lewat bidangmu, tulus dan sederhana.

image

Selamat tahun baru 🙂

Selamat Tahun Baru 2013, sederhana dan tuluslah dalam menolong orang 🙂

Catatan Kecil di RS Jiwa

Berikut  beberapa dialog saya (TS) dengan pasien (A-D):

TS: Sudah makan pak?

A: Saya tidak mau makan kalau belum bisa terbang.

B: Mba dokter, saya udah punya pacar lho.

TS: Oh ya? Cewenya orang mana?

B: Orang Belanda, cantik, kulitnya warna hijau.

C: Mba, aku pernah liat ibu Megawati mba.

TS: Wah keren banget.

C: Iya, aku liat bu Mega di luar angkasa lagi bikin batik.

D: Panjenengan (Anda, dalam bahasa Jawa) kok jahat sekali?

TS: Lho kenapa mba?

D: Panjenengan menyuruh putri Surakarta mengambil tubuh saya.

TS: #tiba-tiba pucat dan langsung diam, mengingat si D mempunyai riwayat mencekik ibunya.

Mungkin Teman semua ketika membaca dialog di atas tertawa, jujur saya juga tertawa setiap mengingatnya. Tetapi taukah Teman mereka mengalami gangguan? Ya gangguan jiwa. Menurut Saya, gangguan jiwa adalah penyakit yang menyakitkan. Karena beberapa dari mereka tidak tahu ini kehidupan nyata atau tidak, tidak menjadi diri mereka sendiri, belum lagi apabila mereka sudah dinyatakan sembuh tetapi masyarakat tidak mau menerima karena bekas pasien RSJ.

Penyebab gangguan jiwa banyak sekali. Karena putus cinta, tidak terima ketika dipecat, dan masalah lainnya hingga benturan di kepala pun bisa menyebabkan gangguan jiwa. Manifestasinya pun beda-beda, ada yang langsung jadi depresi hingga gila (Skizofrenia).

Mengingat hal itu, Saya menyadari pentingnya menjaga kesehatan jiwa. Mengapa? Karena masalah yang menjadi pencetus gangguan jiwa ini bisa dialami semua orang. Jadi semua orang rentan mengalami gangguan jiwa, tergantung orang itu bagaimana menghadapinya.

So, gimana sih memelihara kesehatan jiwa? Menurut Saya, ada beberapa macam:

1. Rajinlah beribadah. Yup, mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa itu sangat membahagiakan lho. Mengetahui bahwa yang terjadi pada diri Saya itu adalah rancangan yang indah dari Yang Maha Kuasa.

2. Refreshing saat weekend. Setelah beraktivitas rutin dengan berbagai tekanan selama seminggu, kita perlu refreshing sejenak. Ambil waktu saat weekend. Refreshing ga selalu ke luar negeri lho, bisa saja ke salon (memanjakan diri), nonton film sambil leyeh-leyeh atau apa pun yang membuat kita senang. Kalau saran Saya, refreshing dapat dilakukan bersama teman-teman, selain bisa sambil silahturahmi, diyakini saat berkumpul dengan teman-teman dapat membuat kita tertawa lepas yang lebih baik dibanding bila kita tertawa sendiri 😀

3. Jalan kaki 30 menit per hari. Sebenernya ga harus jalan kaki sih, tapi yang ditekankan di sini adalah olahraga yang rutin. Saat kita berolahraga, tubuh mengeluarkan hormon endorfin, yaitu hormon yang membuat tubuh kita merasa senang sehingga setelah berolahraga selain mendapat tubuh yang sehat, jiwa kita pun juga terpelihara dengan baik. Di sini Saya ambil contoh jalan kaki karena jalan kaki merupakan olahraga yang simpel, bisa dilakukan kapan saja. Mungkin Saya dapat menyarankan lagi, saat jalan kaki usahakan tersenyumlah pada orang yang Anda temui. (Senyumnya yang wajar aja ya, nanti dikira gila 😛 )

4. Menyadari kemampuan diri. Memang kita diwajibkan mempunyai cita-cita tinggi, tetapi ada baiknya kita menyadari kemampuan diri sendiri juga. Apabila cita-cita kita tinggi, tapi tidak ada usaha dan kemampuan untuk mencapainya, bisa jadi depresi lah yang timbul.

5. Makan makanan bergizi. Nah ini penting, otak kita itu punya banyak sel yang tidak dapat diregenerasi, oleh karena itu, untuk menjaga vitalitas kerja otak, kita perlu asupan yang bergizi. Seperti ikan, telur, sayur dan lainnya.

6. Latih otak mu! Otak kita perlu dilatih setiap hari. Mungkin kita sudah banyak berpikir, tapi latihan di sini berfungsi sebagai refreshing bagi otak kita sendiri. Seperti mengisi teka-teki silang, banyak membaca saat waktu luang dan melakukan kebiasaan dengan hal berbeda. Sebagai contoh, apabila kita sering sikat gigi memakai tangan kanan, cobalah dengan memakai tangan kiri.

Semoga bermanfaat, kesehatan jiwa itu penting kawan ! 🙂

Previous Older Entries